Kamis, 31 Juli 2008

SANDERA 4 WARGA, POLISI TERLUKA


Diduga Karena Stress Guna – Guna

JEMBER – Diduga stress karena dugaan terkena guna – guna Misnan (40) warga Jl Dr Soebandi, Kreongan, Jember – penjual tempe – menyandera 4 orang anggota keluarga yang masih familinya. Hingga Kamis (31/7) masih belum berhasil dibebaskan oleh aparat.
Mereka yang disandera di dalam rumah itu adalah Fatima (25), Ida (30) Agustian (3) dan istri penyandera sendiri bernama Marsini (35). Keempat famili dan istri ini disandera tidak boleh keluar rumah dan dimasukkan di dalam kamar, dikunci dari luar.
Ulah Misnan, ini mengundang perhatian warga setempat, termasuk aparat Kepolisian Sektor Patrang dan Mapolres Jember yang mengerahkan bantuan tenaga pengendali massa (Dalmas) sebanyak 40 orang dipimpin AKP Rodiq Sugiantoro.
Ceritanya, malam Kamis kemarin sempat terjadi pertengkaran antara Marsini istri pelaku tanpa sebab yang jelas. Di dalam rumah itu kebetulan sedang ada familinya. Ada dugaan Misnan, tiba – tiba berubah sikap setelah mendapati sejumlah masalah.
Tanpa diketahui asalnya, Misnan, mengamuk. Bak orang kesetanan dia memasukkan empat orang famili nya itu ke dalam kamar termasuk istrinya sendiri. Lalu mereka dia kunci dari luar. Semalaman tidak bisa dikeluarkan.
Drama penyanderaan ini lantas diketahui warga, dan dilaporkan ke Koramil dekat lingkungan rumah tempat penyanderaan. Karena tidak bisa diatasi kejadian itu lantas dilaporkan ke Mapolsek Patrang dan dikirim bantuan dari Polres sebanyak 40 orang Dalmas dipimpin Kasat Samapta AKP Rodiq S, Kapolsek Patrang AKP Nico Demus, dan Kanit Reskrim Aiptu Karsito.
Saat itu, drama pembebasan sandera dari dalam kamar nyaris berhasil. Tapi, pelaku bisa mempertahankan sandera tetap di dalam kamar. Aparatpun bisa dipukul mundur karena takut terjadi sesuatu dengan korban. Pelaku diketahui mengancam jiwa keempat korban sandera tersebut.
Akibatnya, 2 orang anggota Polres sempat terkena lemparan helm dan Bripda Bianto S, terkena sabetan pisau di pinggangnya. Kanit Reskrim Aiptu Karsito, juga sempat terkena lemparan botol kecap ABC. Anggota polisi yang terluka itu kini telah dirawat di RSUD dr Soebandi untuk dirawat.
Kapolres Jember AKBP Drs Ibnu Isticha, melalui Kasat Samapta Polres Jember AKP Rodiq Sugiantoro, membenarkan kejadian itu. Pihaknya telah melakukan upaya untuk membebaskan sandera tapi malah tambah orang yang terkena sandera. Motif penyanderaan itu tidak diketahui jelas. Tapi, dirinya masih terus memantau jika terjadi sesuatu dengan menerjukan pasukan di sekitar lokasi.
“Kita belum tahu motif dan apa yang dikehendaki pelaku. Kita masih upayakan. Ada dugaan pelaku sedang sakit stress,” ujarnya singkat.kim

PENANGKAPAN DAGELAN, DIDUGA JEBAKAN


Kasus Kepemilikan 10 Butir Extacy

JEMBER - Penangkapan oleh Tim Reskoba Polres Jember, terhadap dokter Dany - dokter kesehatan (dokes) Polres Jember di lingkungan Samsat Sumbersari - sekitar Maret 2008 lalu diduga penuh rekayasa, dan dagelan. Bahkan ada indikasi bermotif jebakan saat ditemukannya 10 butir extacy tersebut.
Beragam kejanggalan ini terungkap dalam sidang lanjutan kasus ini, Kamis (31/7) siang yang dipimpin majelis hakim Charis Mardiyanto, SH, Yanto, dan Yosdi SH. Sidang ini juga dihadiri tim dokkes Polres lain, bu Wiwik, serta keluarga dokter Dany, yang simpatik dengannya didampingi kuasa hukum EA Zaenal Marzuki, SH, dan rekan.
Sidang kepemilikan 10 butir extacy saat itu memeriksa Aiptu Budi Utomo, Paur Yan Min di Unit Reskoba Polres Jember. Menariknya, saksi ini mencla – mencle hingga akhirnya mengakui bahwa kesaksiannya saat ditanya majelis hakim itu bohong. Tapi saat didesak siapa yang menyuruh, dia menolaknya.
Majelis hakim marah – marah, bahkan sempat mengeluarkan pernyataan bernada peringatan kepada penyidik Polres, dan Kejaksaan untuk lebih cermat dan teliti. Tapi, sebentar kemudian, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Awaluddin, SH, dan Agus D Mulyono, menyela. Dia kalau begitu caranya juga mengaku dibohongi polisi .
“Sebentar Pak Hakim, kalau begini namanya bukan pengadilan yang dibuat repot. Tapi, kami juga sebab JPU sangat yakin saat itu dengan surat – surat itu. Kita pikir benar, tapi ternyata hanya pura – pura saja. Ini Jaksa yang dibohongi kalau begini,” ujar Awaluddin, SH.
Sidang semula berjalan landai, setelah disumpah dengan Alquran saksi Budi Utomo ditanya beberapa kali oleh hakim termasuk soal prosedur pengiriman urine terdakwa untuk di test ke Laboratorium. Saat itu dia mengaku urine itu adalah milik dokter Dany, dan diambil oleh penyidik untuk dikirim ke Lab. Saksi mengatakan saat mengirim ke Lab urine dalam botol kecil itu diberi label, diberi nama dan dibungkus rapi. Lalu dimasukkan ke Termos.
Saat dikejar, oleh Dokter Dany dan kuasa hukum akhirnya Aiptu Budi Utomo ini mengaku bahwa dia tidak mengirim urine itu dengan menggunakan Termos berisi es. “Saudara tahu alasan kenapa harus pake termos, urine itu harus bertahan di suhu berapa, tidak tahu kan,” tegas Zaenal, SH.
Anggukan saksi ini berakibat panjang. Dia dicecar lagi, dan akhirnya mengaku tidak memakai termos, termasuk saat mengirim urine itu ke Surabaya. Dia juga mengaku kalau dia tidak tahu menahu isi Berita Acara yang disodorkan oleh penyidik untuk dia tandatangani sebagai saksi, yang belakangan dibuka oleh Majelis berupa Penolakan dari terdakwa berupa penolakan Pengambilan Berkas Pemeriksaan (BAP), Penolakan Berita Acara pengambilan sampel Urine, Berita Acara penolakan penyisihan Barang Bukti, dan Berita Acara penolakan hasil tes Urine.
Dengan senyum kecut, Budi Utomo akhirnya mengakui bahwa dia tidak tahu apa – apa. Semuanya diserahkan kepada penyidik. Dia saat itu hanya dimintai tandatangan saja. Nyaris Majelis mengancamnya dengan pasal 242 KUHP tentang kesaksian palsu dan keterangan palsu. Tapi, majelis masih memperingatkan saja.
Kuasa hukum Dokter Dany, EA Zaenal Marsuki, SH yang juga Ketua IKADIN Jember ini usai sidang menegaskan bahwa kliennya juga merasa disudutkan dengan penggerebekan itu. Dari saksi 5 orang anggota polisi Narkoba yang dimintai keterangan sebelumnya, juga tidak saling mendukung. Saksi polisi pertama yang memeriksa meja terdakwa itu tidak menemukan tapi, saat polisi kedua memeriksa lagi lantas ditemukan Barang Bukti (BB) 10 butir Extacy di laci meja kerja Dokter Dany yang sehari - hari bertugas di Kasi Dokkes Samsat Sumbersari.
Kasat Narkoba Dicopot
Sementara itu, pasca kejadian itu Kasatnarkoba Polres Jember AKP Soetardjo, dicopot dari jabatannya dan dimutasi ke bagian lain – Kapolsek Ambulu. Saat ini jabatan Kasat Narkoba dijabat oleh AKP Edi Sudarto, SH. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Awaluddin SH, dibuat kesal juga oleh mantan Kasat Narkoba AKP Soetardjo ini. Sebab, sudah dua kali dipanggil ternyata tidak mau datang. Majelis Hakim Charis Mardiyanto, SH, meminta Jaksa memanggil kembali mantan Kasat Narkoba itu, untuk diperiksa majelis untuk memperjelas kasus tersebut, tanggal 19 Agustus 2008 mendatang. “Sidang terpaksa ditunda 2 minggu karena saya mendapat tugas dari MA. Kita tunggu tanggal 19 Agustus nanti,” ujar Charis Mardiyanto, menutup sidang.kim

Bupati : “TMKK Tekan Angka Kematian Ibu”

JEMBER - Program TMKK merupakan kegiatan strategis pelayanan kesehatan berupa pelayanan KB gratis kepada masyarakat sehingga dapat menekan jumlah pertumbuhan penduduk tiap tahun, dan menekan angka kematian ibu dan anak yang tinggi di Jember.
Demikian disampaikan Bupati Jember MZA Djalal, Kamis (31/7) pagi, di Balai Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, saat mencanangkan TNI Manunggal KB Kesehatan (TMKK) ke 22 di Kabupaten Jember.
TMKK bertema meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Masyarakat Berkeluarga Kecil, Sehat, Bahagia Dan Sejahtera” ini dihadiri Dandim 0824 Jember, Letkol Inf. Dedy Agus P., Kapolres Jember, AKBP. Ibnu Isticha, Ketua Pengadilan Negeri Jember, Charis Mardiyanto, SH, dan Kepala Bagian, Kepala Dinas, Kepala Kantor, Kepala Badan, Camat, Kapolsek, dan undangan lainnya.
Djalal, lebih jauh mengatakan terima kasih kepada TNI yang menggandeng Pemkab dalam program kali in. Sehingga kesehatan masyarakat diharapkan bisa dijaga kualitasnya.
Terhadap seluruh perangkat desa, diharapkan program TMKK ini dapat diteruskan dengan kerjasama di bawah dengan Koramil, Puskesmas dan tokoh agama setempat.
Djalal menambahkan TMKK ini intinya adalah menjalin kebersamaan antar unsur TNI, Pemerintah, Swasta dan dukungan masyarakat untuk memberi perhatian dan jalan keluar masalah masyarakat terkait dengan Keluarga Berencana (KB), Kesehatan serta bidang kesejahteraan keluarga lainnya.
Dengan pengendalian penduduk melalui KB dan menjaga derajat kesehatan masyarakat maka tugas pemerintah bersama TNI, dan lintas sektoral bisa menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat.
Di sisi lain, Komandan Kodim (Dandim) 0824 Jember, Letkol. Inf. Dedy Agus Purwanto, mengatakan program TMKK sengaja dilakukan untuk membantu pembangunan bidang kesehatan masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Dengan terlaksananya TMKK ini diharapkan dapat menjawab aspirasi dan kepentingan masyarakat di pedesaan, daerah tertinggal, dan keluarga pra-sejahtera untuk mengangkat derajat kehidupannya.
“TMKK Identik dengan kesetiakawanan sosial dalam arti luas karena dimensinya adalah tidak tega melihat nasib rakyat kecil yang menderita,” ujarnya.
Dengan terciptanya masyarakat yang sehat maka ketahanan wilayah semakin tangguh. “Ini mendukung program pemerintah sehat 2010,” ujarnya.kim

Ambulu & Sukorambi Sabet Juara Presiden Cup

JEMBER - Tim bola Volly Kecamatan Ambulu dan Sukorambi akhirnya berhasil menyisihkan 31 Tim yang ikut dalam kejuaraan antar Kecamatan bertajuk Liga Volly Presiden Cup Tahun 2008.
Kejuraan yang dibuka Kapolres Jember AKBP Drs Ibnu Isticha tanggal 10 Juli 2008 lalu itu kini telah resmi ditutup oleh Ketua I PBVSI (Persatuan Bola Volly Seluruh Indonesia) ini.
Pertandingan dilangsungkan di GOR Kaliwates Jember. Tim putra di final dari Ambulu mengalahkan Tim Umbulsari lewat skor 3-2 (25:20, 18:25, 20:25, 25:22 dan 16:14).
Kecamatan Umbulasri meraih juara II, dalam pertandingan ketat selama 1 jam 59 menit. Untuk juara III diraih dari Tim Kecamatan Puger.
Kategori Tim putri di seminfal diikuti Tim Balung, Patrang, Kalisat dan Sukorambi. Sedang yang masuk final adalah Balung dan Sukorambi.
Di final Tim Sukorambi menjadi juara dengan skor telak 3-0 (25:20, 25:16 dan 25:20) selama 60 menit pertandingan mengalahkan Tim Balung.
Menariknya Tim Kecamatan Balung ini didominasi pemain muda berusia belasan tahun. Kendati batasan usia 25 tahun ke bawah tapi ada beberapa atlet dari Tim ini menjadi Tim Kejurda mewakili Jember : diantaranya Rindu, Antokilah, Damaran, Bagas, Yasin, Nico, Widodo. Di tim putri ada nama peraih perak di PON Kaltim kemarin diantaranya Febri, Nul, Riris, Elmar, Ike, Emilia dan Sulis.
Drs Achmad Sudiyono Ketua I PBVSI Jember mengatakan melalui kegiatan volly Jember bisa menyumbang medali bagi Tim Propinsi Jatim.
“Pemain kita ternyata bisa mampu berbicara di tingkat regional dan tingkat,” tandasnya.
Achmad Sudiyono mengaku bersyukur dan memberi ucapan selamat bari peraih juara itu untuk tetap berlatih dan bagi yang kalah untuk tak putus asa mengejar prestasi.kim

PELAJAR DIAJAK BACK TO NATURE

JEMBER - Peningkatan kualitas pendidikan bagi anak didik dan pelajar butuh kreatifitas dan inovasi pengajaran. Hal ini diyakini, Kepala Dinas Pendidikan Drs Achmad Sudiono, sebagai sesuatu langkah penting dalam memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Jember.
Dalam waktu dekat ini Pemkab akan kerjasama dengan Perhutani, membangun pendidikan ektrskurikuler bagi pelajar setingkat SD, SMP dan SMA di kawasan LTDI (Lapangan Degan Tujuan Istimewa) Garahan Silo Jember di lahan Perum Perhutani.
“Kegiatan ini selain untuk tambahan pelajaran ekstra kurikuler juga diharapkan para siswa di Jember dapat meningkatkan rasa cintanya kepada hutan dan lingkungan nya terutama,” ujarnya saat menutup Liga volly Piala Presiden Cup 2008 di GOR Kaliwates Jember.
Maksudnya, pelajar nantinya akan dikenalkan kepada alam terbuka (Back to Nature), sambil mempraktekan ilmu di sekolah.
“Sembari mengetahui jenis tanaman, membuat bibit tanaman, menanam lewat polibek hingga penghijauan dengan praktek langsung pelajaran IPA. Apalagi disana tersedia ada berbagai fauna kupu-kupu dan tanaman langka,” tandasnya.
Rencananya kedepan setiap siswa baik SD, SMP dan SMA diberi tanggung jawab secra bergilir proses penghijauan itu.
Dari sini generasi muda dapat sadar akan manfaat hutan sebagai payung dunia. Dan kecintaan terhadap alam dan hutan akan dapat membantu menyadarkan para orang tua untuk menjaga kelestarian alam.
Selain bernuansa pelajaran juga bernuansa hiburan dan olah raga out bond. Ketrampilan ini tentu saja diharapkan bisa dikuasai pelajar sehingga integritas diri pelajar dalam melalui halang rintang dapat memberi masukan pendidikan mental kepada anak didik.
Di kawasan LTDI nanti akan dimanfaatkan juga untuk arena motor cross bagi pemuda. Harapannya tentu saja dapat mengurangi aksi kebut-kebutan di jalan raya. Kerjasama itu menurut rencana akan digelar 8 Agustus 2008 besok bersama Work Shop Nasional. kim

Rabu, 30 Juli 2008

CAMAT KALIWATES DIPOLISIKAN

Diduga Gelapkan 31 Unit Komputer Milik CV Mitra Garindra

JEMBER – Camat Kaliwates Ir Wahyudi Abdullah, yang juga orang dekat MZA Djalal, ini lagi mendapat masalah berat. Dia dipolisikan oleh Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) Jember, karena dugaan menggelapkan, menipu daya melalui program kursus komputer yang menggunakan komputer milik rekanan sebanyak 31 unit merek Compaq, dan Dell, Selasa (28/7) kemarin.
Ceritanya, Direktur SDM IPAMA Jember M Aris Susanto (40) warga Jl KH Shiddiq 46 Talangsari Jember ini (pelapor, red) menjalin kerjsama pelatihan dan kursus komputer bagi aparatur pemerintah di tingkat Desa, dan Kecamatan dengan dukungan penuh Camat Kaliwates Ir Wahyudi Abdullah (terlapor, red) sejak Nopember 2007.
Ide pelatihan komputer gratis untuk perangkat Desa, dan Kecamatan itu terlaksana berkat lobi, dan kedekatan Aris sendiri dengan Camat. Ide ditangkap dan terlapor antusias turut serta mengegolkan program itu, termasuk menghubungkan IPAMA ke Desa, dan Kecamatan.
Karena orang dekat Bupati, program itu berjalan lancar. Tapi, sebelum realisasi karena IPAMA tidak memiliki sarana komputer itu, lantas menjalin MoU dengan CV Mitra Garindra, di Surabaya. IPAMA diberi pinjaman komputer sebanyak 31 unit merek Compaq, 3 unit merek Dell, kamera digital 2 unit, dan printer laser jet.
Menurut M Aris Susanto, CV Mitra Garindra ini mau MoU dengannya karena harapannya di akhir pelatihan adalah penjualan barang. Hal itu untuk menutup biaya operasional yang dikeluarkan CV Mitra Garindra, dan IPAMA yang masing –masing menyediakan tenaga tutor.
Pelatihan itu berjalan tiap minggu melatih 3 Kecamatan. Pesertanya, sejumlah Desa yang ada di Kecamatan tersebut. Rata –rata yang datang sekitar 70 % atau sekitar 20 orang lebih wajib hadir di wilayah Kecamatan tersebut. Pesertanya terdiri dari Kaur Kesra, Pembangunan, Kades, hingga Sekdes.
Terlapor, yang semula memfasilitasi itu kini tak mau tahu. Bahkan di akhir program / kegiatan itu 31 unit komputer Compaq, 3 merek Dell, 2 kamera digital, dan printer laser ditahan dengan alasan minta uang pengganti sebagai honor tutor selama program itu dia lanjutkan sendiri.
Sekadar diketahui, program itu dihentikan CV Mitra Garindra, dan IPAMA sendiri karena selama 3 minggu program berjalan tidak ada penjualan. Saat itulah terlapor, mengaku menggunakan tenaga lokal sendiri, karena terlanjur sudah digembar – gemborkan ke Bupati Djalal.
Salah satu anak buah Camat Kaliwates, Hadi Susanto, menemui pelapor. Dia minta program tetap dilanjutkan karena malu dengan Bupati. Dan komputer tersebut dipinjam untuk melanjutkan program itu dan baru berakhir Pebruari 2008.
Tapi, saat ini puluhan komputer itu ditahan terlapor. Dan malah minta uang pengganti tutorial pasca pemutusan kontrak dengan IPAMA. “Katanya kalau tidak dikasih , komputer tetap ditahan,” ujar pelapor, menirukan omongan terlapor.
Usut punya usut, ternyata sehabis diputus kontrak dengan CV Mitra Garindra, dan IPAMA. Nama lembaga IPAMA ini tetap dipake terlapor. Sedikitnya 28 Kecamatan dikurangi 9 sisanya, masih memakai IPAMA. Tandatangan direktur SDM M Aris Susanto, dipalsukan Rendra Bahana, pacar dari anak Camat Kaliwates.
Karena nilai total komputer senilai Rp 157.700.000, dan tidak bisa diambil M Aris Susanto, terpaksa melaporkan kasus itu ke Mapolres dengan tuduhan penggelapan, dan penipuan.
Termasuk terlapor dituduh memakai nama IPAMA dan mengaku sebagai salah satu Direktur IPAMA untuk mendapat bantuan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat Ir Wijoyo berupa Laptop. “Dokumen itu, saya temukan di komputer yang berhasil saya ambil di kecamatan Jelbuk,” ujar M Aris, yang akan menyerahkan barang itu ke Mapolres sebagai barang bukti.
Camat Kaliwates, Ir Wahyudi Abdullah, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa dirinya tidak ada kaitan dengan IPAMA, dan CV. Dia hanya fasilitator saja dalam hal itu. Semua dokumen dan berkas dia punyai. Dia yang kini menunggui istrinya sakit di RS DKT Jl PB Sudirman karena sakit itu mengatakan IPAMA dan CV itu sendiri yang salah. “Lho karena kita kan punya tanggung jawab moral ke Bupati, maka kita teruskan programnya. Biaya sendiri kita,” ujar Wahyudi Abdullah.
Di lain sisi, Kasatreskrim Polres Jember AKP Holilur Rahman, SH, membenarkan laporan itu. Polisi merasa geram karena Camat dipanggil 2 kali tidak hadir. Besok (hari ini, Red) akan dipanggil lagi untuk dimintai keterangan. “Kita panggil dan periksa besok, (hari ini,Red),” ujarnya singkat melalui HP nya.kim

PLTMH ANTROKAN DITANYAKAN WARGA


JEMBER - Dialoq Solutif yang digelar dalam kemasan Bedah Potensi Desa, memasuki putaran ke25. Kegiatan ini menjadi ajang menjalin keakraban, silaturrahmi dan curhat (curahan hati) antara warga dengan Bupati untuk menyalurkan aspirasi yang tersumbat.
Bupati Jember MZA Djalal, dalam dialog Solutif di Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul, Selasa (29/7), menegaskan posisi Pemerintah dalam menyampaikan berbagai kebijakan dan program pembangunan.
Tentu saja katanya, Pemerintah selalu berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada rakyat di semua sektor. Terkait di bidang pendidikan Pemerintah telah menggratiskan SPP bagi siswa SD dan SMP.
Pemkab juga telah memberikan layanan kesehatan gratis untuk rawat jalan bagi masyarakat miskin. Di sisi lain, Pemkab sedang menuntaskan pembangunan bidang sarana jalan dan jembatan.
“Pemkab selama beberapat tahun ini sudah berusaha maksimal,” ujarnya.
Dia berharap ada peran serta semua lapisan masyarakat dalam membantu pemerintah menyukseskan pembangunan, memberi informasi pembangunan yang penting. Serta memberi informasi dan saran masukan kepada Kades, dan Camat selaku pimpinan wilayah.
Dialog yang digelar di areal milik PTPN XI Kebun Banjarsari di Desa Klatakan Kecamatan Tanggul, ini muncul beragam aspirasi masyarakat sebagai modal dasar pembangunan Jember ke depan.
“Selama kepentingan individu dan kepentingan kolektif masyarakat dipenuhi, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak membangun,” ujarnya.
Diakui selama ini masih kurang adanya partisipatif masyarakat dalam pembangunan dan masih sebatas merumuskan aspirasi saja.
Dia menceritakan pengalaman menangani berbagai kawasan di Jember, dialog dengan warga, serta kemampuannya menggerakkan pengusaha untuk mendukung pembangunan di Jember.
Di lain sisi, Camat Tanggul, Drs. Dwi Setyo Nusantara, MM, MSi mengatakan kondisi geografis masyarakat Jember Selatan relatif cukup sarana infrastruktur dan sarana jalan, jembatan, perekonomian, kesehatan dan pendidikan.
Tapi, di Jember bagian Utara sangat terbatas sehingga sebagian besar anggaran seharusnya difokuskan ke sana. Semisal terkait minimnya jumlah sekolah dan tenaga guru, kesehatan hingga sarana perekonomian lain.
Selain pembangunan infrastruktur, yang tidak kalah penting adalah berupa pembangunan sarana pendukung lain. Salah seorang warga Desa Manggisan, bernama H. Muh. Jamaludin mempertanyakan PLTA Antrokan terkait suplay energi PLN saat ini.
Diakuinya banyak desa di sekitar Manggisan yang masih belum menikmati aliran listrik. “Kalau malam Desa ini gelap. Padahal, ada potensi sumber energi besar apabila dapat dikembangkan, “ tukasnya.
Tapi, yang disesalkan warga adalah keinginan warga untuk membuka akses jalan dan jembatan yang menghubungkan Desa Darungan – Manggisan (Jembatan Darma) belum direalisasikan.kim

Selasa, 29 Juli 2008

MENDAGRI DAN MENKEU DIGUGAT WARGA


TPRM Desak Hakim Kabulkan Class Action

JEMBER - Puluhan warga Desa Mangaran Kecamatan Ajung benar - benar untuk mempertahankan tanah mereka. Kemarin, warga yang merasa tanahnya diklaim oleh PTPN XI mendatangi PN Jember mendesak agar majelis hakim mengabulkan gugatan calss action mereka.
Koordiantor aksi demo, Mistar mengatakan ada sekitar 320 warga Dusun Curah Tapas Desa Mangaran Kecamatan Ajung yang tergabung di Tim Perjuangan Rakyat Mangaran (TPRM) menuding PTPN XII mengklaim tanah eks hak guna usaha seluas 47,34 hektar yang kini dikuasai warga.
“Kita minta agar majelios hakim bersikap adil untuk mengabulkan gugatan class action kami. Kalau tanah itu dikuasai lagi oleh PTPN XII, ini namanya tidak adil," kata Mistar.
Dia mengungkapkan, warga sebenarnya sudah mendiami lahan yang dulu dikenal dengan perkampungan Kebon Pring sejak tahun 1938 sampai tahun 1942. Saat itu kata daia sudah izin dari pemerintah Belanda yang sempat menguasai dalam bentuk perkebenan karet seluas 151 hektar.
Selanjutanya pada tahun 1965 bebarengan dengan tragedi G 30 S PKI, warga sempat digusur dan diintimidasi oleh pihak PTN XII yang saat itu menakut-nakuti lewat kekuatan tentara.
Penggusuran dan pengusiran itu dilakukan hingga tahun 1974 dan warga akhirnya mendiami Dusun Kebon Pring. Pada tahun 2000 era Presiden Gus Dur warga kembali mendiami lahan yang sebelumnya sudah mereka tempati.
Pihak TPRM juga memiliki bukti kuat dengan menunjukkan surat keputusan hak guna usaha nomor 36/DA/1987 yang intinya lahan seluas 47 hektar di Dusun Curah Tapas harus segera dilepaskan dan diperuntukkan warga.
Selain itu warga juga memperkuat dengan surat keputusan dari BPN pusat yang intinya terdapat perkebunan Rnteng seluas 1.075,28 hektar dan tidak termasuk lahan seluas 47 hektar akan tetap menjadi milik masyarakat dengan lewat pelepasan tanah.
"Tahun 2000 silam pemerintah Jember juga membentuk tim terdiri dari Pemkab dan DPRD serta BPN Jember. Keputusannya pelepasan tanah seluas 47 hektar itu harus segera dilakukan PTPN XII dan sleanjutnya diberikan kepada warga," ujarnya.
TPRM mendesak agar pemerintah antara lain BUMN, Kementerian Keuangan, PTPN XII dan BPN pusat segera merespon sengketa tanah yang sudah lama berlarut-larut itu. Sedang penasehat hukum Tim TPRM, Didik Muzanni mengatakan, status hukum yang dimiliki warga sangat kuat.
"Itu sudah dibuktikan dengan munculnya surat keputusan hak guna usaha nomor 36/DA/1987 yang intinya lahan seluas 47 hektar di Dusun Curah Tapas harus segera dilepaskan
dan diperuntukkan warga," kata Didik Muzanni.
Sedang kuasa hukum PTPN XII Sunarno Edy Wibowo SH, mengatakan, pihaknya menolak istilah class action dalam sengketa tanah di Dusun Patemon Desa Mangaran Kecamatan Ajung itu.
Bahkan PTPN XII tetap bersikukuh membawa ratusan warga ke meja hijau berdasarkan UU No 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan. "Kita masih memiliki surat resmi sebagai bukti kalau lahan yang dikuasai warga itu masih dalam penguasaan kami. Kalau ada warga yang mendiami lahan itu, maka akan kita gunakan undang-undang perkebunan dengan delik menempati atau menguasai lahan tanpa izin," tandas Sunarno Edy Wibowo.
Dia juga berkeyakinan saat majelis hakim menelisik gugatan class action, maka akan bisa dibatalkan dan pihak PTPN XII tetap bisa menguasai lahan seluas 47,34 hektar itu. Sayangnya dalam sidang gugatan class action perdana itu ditunda sampai Agustus nanti sampai bisa mendatangkan Mendagri dan Menkeu sebagai tergugat.kim

Pengumuman Pemenang Lelang Diprotes

Pemenang Lelang Tak Lulus Administrasi Dimenangkan

JEMBER – Pemenang lelang 3 paket proyek pengadaan energi listrik terbarukan, dan pemeliharaan SUTR, di Silo (2 paket), dan Jelbuk masing- masing Rp 345 juta, Rp 808 juta, dan Rp 870 juta telah diumumkan. Tapi, rekanan lain peserta lelang protes karena pemenang lelang saat dibuka dokumennya tak lulus administrasi.
Menurut Arif Sugito, rekanan peserta tender di Dinas Perindustrian, perdagangan, dan penanaman modal bahwa ada dokumen penawaran dari CV Arista Karya, yang tidak menggunakan materai tapi dimenangkan dalam salah satu paket itu.
Selain itu, juga ditemukan saat pembukaan dokumen dengan metode 2 sampul bahwa dokumen CV tersebut berada di kotak paket A, tapi muncul sebagai pemenang di kotak paket B. “Ini kok tetap dipaksakan,” ujar Arif Sugito.
Diapun, kemarin berkoordinasi dengan Asosiasi rekanan lain untuk mendiskusikan tersebut. Sebab, di lain sisi bahwa metode penilaian / evaluasi penawaran itu adalah menggunakan sistem gugur. Tapi, Panitia pengadaan menggunakan sistem lain. Padahal, di aanwijzing telah ditetapkan sistem penyampaian dokumen 2 sampul, atau sistem gugur.
“Kenapa panitia masih meneruskan itu. Padahal, ada pasal krusial di dokumen aan wijzing tersebut yang tidak mencantumkan redaksional dasar Keppres dan perubahan – perubahannya,” ujar Arif Sugito.
Di lain, sisi anggota panitia yang dihubungi mengatakan bahwa panitia sudah benar melakukan prosedur. Kalau soal keredaksionalan itu yang jelas sudah inheren dalam peraturan di Keppres. Tentu saja acuan panitia adalah Keppres dan perubahan – perubahannya.
Soal metode penyampaian dokumen, panitia tetap menggunakan metode 2 sampul. Sampul pertama dibuka sebagai kelengkapan administrasi, dan peserta hanya diperbolehkan melihat nilai jaminannya saja tanpa boleh membuka sampul kedua karena hak panitia mengevaluasi harga penawaran penyedia jasa.
“Kalau lantas kemarin dibuka dua sampul sekaligus, itu karena ada desakan dari rekanan penyedia jasa peserta lelang itu yang memaksa panitia. Apalagi di sana dihadirkan staf Banwas yang mendukung rekanan yang protes itu. Panitia lepas tangan. Karena yang membuat pernyataan itu, adalah keputusan rekanan, dan staf Banwas itu,” ujar anggota panitia, anak buah Dra Nanis Prihatin.
Dia menambahkan, jika ada persoalan dan keluhan terhadap keputusan panitia itu maka bisa dilakukan protes atau sanggahan. Dan prosedurnya telah diatur dalam Keppres mekanisme sanggahan pemenang tersebut.
Bocoran nya, bahwa pemenang lelang itu adalah CV Fajar Elektronik, cadangan CV Arista Karya, untuk paket Silo, CV Syam Putra Sari, cadangan CV Prista Jaya untuk paket Jelbuk, dan CV Prista Jaya untuk paket Silo, cadangan CV Arista Karya, tanpa materai. Ketua Panitia pengadaan sendiri, Dra Nanis Prihatin, belum berhasil dihubungi. kim

RESEPSI TUJUH BELASAN TERBUKA UNTUK UMUM

JEMBER - Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 63 tahun 2008 di Jember akan disajikan berbeda. Tidak hanya menampilakan berbagai event dalam kemasan Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), masyarakat Jember saat acara kenegaaran 17 Agustus dan resepsinya tanggal 19 Agustus 2008 akan dibuat terbuka untuk umum.
Upacara detik-detik Proklamasi 17 Agustus dan resepsi kali ini berbeda dari perayaan 2 tahun sebelumnya yang khusus dihadiri Tokoh, Elemen Masyarakat, dan aparatur Pemerintah. Tapi, tahun ini acara kenegaraan akan melibatkan seluruh masyarakat Jember.
“Ide ini sebagai perwujudan arti pemerintah sebagai abdi masyarakat lewat cara kenegaraan dan BBJ,” ujar Sekda Jember, Drs Ec Djoewito di sela kunjungan di sekretariat HUT RI di eks Kantor Bupati Jember.
Djoewito yang juga Ketua Panitia HUT RI 63 ini mengatakan sebelumnya saat pelakasanaan upacara dan acara resepsi kenegaraan masyarakat hanya sedikit yang menikmati acara itu. Tahun ini diharapkan semua masyarakat dapat berduyun-duyun menghadiri dan menikmati karena acara itu.
Terutama acara resepsi kenegaraan dengan hiburan kesenian Jember nanti disajikan panitia secara terbuka bagi rakyat Jember. “Agar rakyat bisa menikmati keceriaan peringatan tujuh belasan,” ujarnya.
Selain itu diharapkan akan tumbuh rasa patriotisme dari masyarakat yang dibarengi dengan penampilan panyanyi Jember, Thomas SRB.
Rencannya selain paduan suara kolaborasi Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan TNI se Jember akan ditampilkan dengan lagu tema – tema perjuangan.
“Akan kita tampilkan seniman Jember yang telah berjasa membesarkan dan pernah mengharumkan nama Jember,” tukasnya.
Di malam resepsi nanti diupayakan ada pendekatan dari panitia kepada pihak-pihak yang pernah membesarkan nama Jember, semisal artis asal Jember di Jakarta untuk datang ke Jember.
“Sedang kami jajaki upaya itu, semisal Dewi Persik, Anang Krisdayanti, Thomas SRB dan artis lain asal Jember,” ujarnya.
Acara itu nantinya juga akan ditampilkan peragaan Icon Jember yakni JFC miniatur tanggal 3 Agustus 2008 dan disaksikan secara terbuka oleh masyarakat. “Dalam rangka itu kita akan rapat dengan semua SKPD,” ujarnya.kim

BUCEK DEEP PANITIA BBJ 2008 PARALAYANG JEMBER



JEMBER - Artis ibukota, mantan suami Titi DJ, Bucek Deep tanggal 28-29 Juli 2008 secara khusus datang ke Jember untuk keliling melihat potensi Jember. Kehadirannya ini sekaligus sebagai sikap pernyataan Bucek, sebagai panitia Nasional Paralayang di Jember Agustus mendatang di Jember.
Tentu saja, aktifitas kegiatan sebagai panitia Lomba Paralayang Nasional nantinya segala perhatian dan waktu akan dicurahkan ke Jember. Tapi, ternyata kesibukan itu tidak menghambat aktifitas Bucek lainnya.
“Karena ini hobi saya sejak 7 tahun lalu,” ujarnya.
Ditambah lagi, rasa penasaran nya terhadap kota Jember sudah terbobati. Sedikit banyak dia mengetahui Kota Jember dari Bambang penyelenggara BBJ tahun kemarin. “Saya tahunya ya dari perayaan BBJ ini,” ujar Bucek saat ditemui oleh Kadis PU Pemkab Jember Ir Juwarto, di ruangannya.
Mantan istri Titi DJ ini mengatakan bahwa secara nasional telah dicanangkan bahwa tahun 2008 sebagai Visit Indonesia Year. “Sehingga saat di Jember memprogramkan kegiatan BBJ kami mau ikut mensukseskan juga,” cetus Bucek, sambil melayani para karyawan dan staf PU yang ingin foto bersama.
Bucek tak hanya sebagai panitia saja, tapi dia juga sebenarnya atlet Paralayang, maka semangat panitia lain kian punya gereget. “Terlebih Bupati Djalal, sangat mendukung event BBJ ini,” ujarnya.
Dia bermimpi suatu ketika Olah Raga Paralayang di Indonesia bisa berkembang seperti di negara – negara lain.
“Dengan berbagai kolaborasi telah dilakukan agar semua club jalan seperti layaknya di luar negeri bisa mengembangkan tempat wisatanya,” tambahnya.
Menurutnya, peluang itu sangat besar karena semua atlet nusantara datang untuk berpartisipasi sebagai peserta.
“Masih ada waktu sebulan bagi atlet nasional kita usai PON kemarin sebagai persiapan datang ke Jember,” ujarnya.
Katanya Lomba Paralayang ini memperebutkan Piala Bupati Jember, dengan tawaran hadiah menggiurkan bagi atlet nasional dan internasional, 2 kali lipat dibanding tingkat Jatim.
“Di daerah lain seperti Batu pernah dilakukan dengan menggunakan alat bantu towing (Penarik) tapi bukan dilombakan,” tandasnya.
Kedatangan Bucek, ke Jember ini diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi kejuaraan nasional paralayang dan bisa digelar tiap tahun.
Perlombaan paralayang nanti akan dilakukan di Bandara Udara Notohadinegoro. “Di daerah itu cukup bagus anginnya tidak terlalu kencang, “ pungkasnya.kim

Senin, 28 Juli 2008

Tiga Cabup Tak Akui Perhitungan Suara Pendopo



BONDOWOSO - Perhitungan cepat yang dilakukan Pendopo Pemkab Bondowoso yang memenangkan pasangan cabup Amin-Haris berbuntut panjang.
Tiga cabup yang merasa kalah yakni Syalwa-Thahir, Misnan-Sobri dan Irwan-Huzaini menolak hasil perhitungan itu.
Dalam penolakan itu massa dari ketiga pasangan cabup itu juga melakukan pembakaran foto kopi kertas pengumuman hasil perhitungan suara tersebut.
Pembakaran itu dilakukan tepat didepan pagar halaman pendopo bupati tanpa kawalan ketat pihak kepolisian Polres Bondowoso.
Juru bicara tiga cabup yang tergabung dalam Tim Bondowoso Menangis dan Terjajah, Zainurianto mengatakan, ketiga cabup menyatakan menolak atas hasil perhitungan cepat yang dilakukan Pemkab Bondowoso.
Dia juga menegakan menolak hasil pelaksanaan pilkada karena diketemukan banyak warga yang masih belum masuk dalam daftar pemilih tetap.
"Yang jelas kita menolak pelaksanaan pilkada yang banyak pul aditemkan pengglembungan suara. Apalagi dengan hasil perhitungan cepat oleh pendopo. Apapun hasil perhitungan baik secara resmi oleh KPUD, kita menolak tegas pilkada yang dilakukan penuh kecurangan ini," kata Zainurianto.
Sekadar diketahui, perolehan suara sementara perhitungan cepat versi pendopo Pemkab Bondowoso pada Rabu (23/7) pukul 21.00 menyebutkan cabup Amin–Haris palin unggul dengan 144.616 suara, disusul cabup Syalwa-Thahir 128.484 suara, Misnan-Sobri 54.282 suara dan Irwan Bachtiar-Huzaeni dengan 74.014 suara.Zainur juga menilai dengan tidak validnya pendataan pemilih yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemkab Bondowoso serta KPUD Bondowoso, maka terdapat sekitar 40 persen pelaksanaan pilkada cacat hukum dan harus dilakukan pilkada ulang.
"Dalam waktu1 x 24 jam jika tidak ada tindakan dari Pemkab dan Kpud, kita akan menggugat secara PTUN, PTUN, dan kita akan terus melakukan advokasi dengan menerima banyak pengaduan pelanggaran dari sejumlah tempat pemungutan suara," ujar Sekretaris Tim Sukses Syalwa-Thahir ini.
Sedang cabup Irwan Bachtiar Rachmat yang juga Ketua DPC PDIP Bondowoso menambahkan, disinyalir ada beberapa petugas tempat pemungutan suara di kecamatan seperti Binakal, Cerme, Prajekan, Jambesari, Pujer, Tapen telah meminta kertas plano secara tidak resmi pada KPUD.
"Padahal dalam satu paket kotak suara sudah ada kertas plano untuk bukti hasil perhitungan suara. Perminataan kertas plano itu dilakukan oleh tim salah satu cabup dan memungkinkan merekayasa hasil perhitungan resmi," tandas Irwan Bachtiar Rachmat.
Seperti dikatakan Bupati Bondowoso Mashoed sebelumnya, perhitungan cepat itu sebagai salah satu bentuk informasi yang diberikan pada masyarakat untuk mengetahui hasil pilkada.
Mashoed mengatakan tidak ada kehendak apapun terkait proses dan perhitungan itu. Sedangkan Wakil Ketua KPUD Bondowoso Purwanto mengatakan, pihaknya belum mengambil sikap soal adanya tiga cabup yang menolak hasil perhitngan versi pendopo.
"Kita masih belum resmi mengumukan hasil pilkada, hasilnya akan diumumkan pada akhir Juni ini," katanya. Pihak KPUD juga menyatakan tetap berhati-hati melakukan perhitungan manual di tiap tempat pemungutan suara.
"Kita tidak melakukan perhitungan sementara, untuk secepatnya perhitungan suara dari KPPS akan dilakukan dan segera disetorkan ke KPUD," katanya.
Terpisah, Ketua Tim Sukses Amin-Haris, Achmad Dhofir tidak terlalu menganggap menyusul sikap tiga cabup yang menolak hasil perhitungan suara versi pendopo maupun adanya dugaan penggelembungan suara.
"Kalau ada yang menolak hasil perhitungan, ya silahkan saja. Itu sah-sah saja. Tapi kemenangan dalam perhitungan versi pendopo itu awal membuktikan kalau kita sudah menang, apalagi nanti ketika KPUD mengumumkan secara resmi. Kita optimis tetap menang," timpa Achmad Dhofir. Kim/*

RAMBUT DICUKUR GUNDUL

Menyusul kemenangan hasil perhitungan sementara versi pendopo, ratusan pendukung Amin-Haris yang diantaranya dari unsur kepala desa langsung melakukan syukuran berupa cukur gundul secara massal. Cukur gundul itu dilakukan di rumah dinas Ketua DPRD Bondowoso Achmad Dhofir yang juga Ketua Tim Sukses Amin-Haris.
"Kami bersyukur didesa kami seperti Curah Poh, JerukSoksok, dan puluhan desa lainnya untuk suara Amin-Haris paling banyak memperoleh suara dibanding calon lain," kata Sukarno yang juga Kepala Desa Curah Poh Kecamatan Curahdami.
Cukur gundul massal itu juga diikuti oleh cawabup Haris Son Haji yang saat bercukur itu berharap dirinya bisa memulai pemerintahan Bondowoso dengan hati dan kebijakan yang bersih.Cabup Amin Said Husni mengatakan, dengan hasil pilkada yang masih sementara itu pihaknay optimis dalam pengumuman resmi oleh KPUD itu dirinya tetap unggul.
"Sektor andalan kami bidang pendidikan, kesehatan dan pertanian yang akan kami garap serius untuk masyarakat Bondowoso," kata Amin yang saat itu langsung memborong bakso yang kebetulan lewat di depan wisma bersama puluhan pendukung lainnya. Kim/*

AMIN HARIS UNGGUL, SYALWA KEOK



BONDOWOSO - Diprediksikan pasangan cabup yang diusung PKB Bondowoso, Amin Said-Haris Son Haji menang telak di tingkat Kabupaten.
Hal itu didasarkan hasil penghitungan suara cepat di Pendopo Pemkab Bondowoso hingga pukul 20.00 WIB. Pasangan ini unggul dibanding tiga calon lainnya.
Pasangan cabup/cawagub Amin–Haris mendapatkan dukungan sebanyak 142.501 atau 35,81 persen. Sedangkan perolehan cabup nomor urut dua yakni Syalwa-Thahir mendapatkan suara sekitar 127.176 atau 31,88 persen, sementara pasangan nomor urut tiga Misnan-Sobri hanya berhasil meraup 54.268 suara atau 13,61 persen.
Sedang cabup Irwan Bachtiar-Huzaeni pasangan nomor urut 4 yang diusung PDIP mendapatkan sekitar 74.149 suara atau sekitar 18,59 persen.
Data di atas itu merupakan total dari tempat pemungutan suara di kecamatan yang mencapai 380.975 suara dengan daftar pemilih tetap se-Bondowoso sekitar 568.510 yang tersebar di 1.274 tempat pemungutan suara.
Melesatnya perhitungan suara tampak pada Perolehan suara sementara perhitungan cepat versi pendopo pemkab bondowoso hingga Rabu 23.7.08 pukul 21.00 WIB. Hasilnya, Amin–Haris : 144.616 suara, 2. Syalwa-Thahir : 128.484 suara, 3. Misnan-Sobri : 54.282 suara, dan
4. Irwan Bachtiar-Huzaeni : 74.014 suara.
Cabup Amin Said pun sebelum perhitungan suara melakukan potong rambut. Hal ini dilakukannya karena merasa percaya kemenangan sudah ada digenggaman. Potong rambut itu dilakukan di posko pemenangan Amin – Haris.
"Awalnya potong rambut dilakukan karena saya tidak sempat potong rambut karena sibuk berkampanye. Tapi karena kini, kondisi dia santai menunggu hasil penghitungan, jadai ya saya potong rambut sebagai tanda dan firasat kemenangan," kata Amin Sid Husni.
Dia juga mengatakn, potong rambut itu juga sebagai tanda awal kalau dirinya siap mengabdi pada masyarakat BondowosoDitempat lain, Ketua Tim Sukses Amin–Haris yang juga ketua DPC PKB Bondowoso Achmad Dhofir mengatakan, dirinya siap menggundul rambutnya bersama tim sukses dan kader PKB lainnya jika calon yang diusung partainya meraih kememengan.
"Semoga saja perhitungan suara itu pada akhirnya memenangkan Amin-Haris. Kita optimis Bondowoso kedepan akan lebih baik," kata Achmad Dhofir.
Berbeda dengan calon PKB yang optimistis meraih kemenangan telak, pasangan KH Syalwa Arifin – Imam Thahir justru tak menunjukan rasa optimisitisnya. Dia menganggap kemenangan sementara Amin-Haris masih belum final.
"Saya tak tahu menahu dan belum tahu perhitungan suara itu. Penghitungan perolehan suara masih dari kantong-kantong pendukungn ditanyakan kepada tim pemenangan. Itu akan jadi urusan tim sukses saya," kata Syalwa.
Semenrara Bupati Bondowoso Mashoed yang mengikuti langsung perhitungan suara di Pendopo mengatakan, penghitungan sementara yang dilakukan di pendopo pemkab tersebut untuk membantu masyarakat agar tak bingung untuk mengetahui hasil perolehan suara sementara.
"Untuk ketetapan pemenangnya tetap menjadi kewenanagan KPUD Bondowoso. Ini agar masyarakat Bondowoso tak bingung mencari informasi," tukas Mashoed yang akan lengser dua bulan lagi ini. Terpisah, anggota KPUD Bondowoso M Malik saat dikonfirmasi perolehan suara sementara pilkada Bupati mengatakan, masih belum mengetahui secara pasti. "KPUD Bondowoso tidak menggunakan quick count.
Itu didasari karena tak ada aturan hukum untuk menggelar quick count. Apalagi untuk menggelar itu biayannya tidak murah," kata M Malik.
Pihaknya menegaskan pada masyarakat biasa agar sabar menunggu sampai hasil rekapitulasi selesai dikerjakan dan dapat diumumkan secara final pada tanggal 30 Juli 2008 mendatang.
"Pilkada Bupati Bondowoso dan Pilgub Jatim kan bersamaan, jadi pengumuman pemenang pilkada secara resmi juga akan disampaikan bebarengan," imbuhnya. Kim/*

Suara sementara Perhitungan Cepat Versi Pendopo Pemkab Bondowoso :

(Rabu 23.7.08 pukul 21.00 WIB)

1. Amin–Haris : 144.616 suara
2. Syalwa-Thahir : 128.484 suara
3. Misnan-Sobri : 54.282 suara
4. Irwan Bachtiar-Huzaeni : 74.014 suara

Data ini total dari TPS se Kabupaten mencapai 380.975 suara dengan DPT 568.510 suara di 1.274 TPS.

Hingga pukul 20.00 WIB
1. Amin–Haris : 142.501 suara atau 35,81 persen.
2. Syalwa-Thahir : 127.176 suara atau 31,88 persen.
3. Misnan-Sobri : 54.268 suara atau 13,61 persen.
4. Irwan Bachtiar-Huzaeni : 74.149 suara atau 18,59 persen.


(Sumber : Perhitungan Cepat Pendopo Bondowoso)

CABUP SYALWA – TOHIR, KLAIM MENANG PILKADA



BONDOWOSO - Ketidakpuasan cabup Syalwa-Thahir yang merasa kalah dalam hasil perhitungan quick count versi pendopo Pemkab Bondowoso terus bersikap. Setelah membakar foto kopi kertas hasil quict count, mereka juga mengklaim memenangi pilkada dengan hasil pehitungan yang dilakukan Tim Paham Syalwa-Thahir mengungguli cabup Amin-Haris.
Perolehan suara yang dihembuskan dari kubu Salwa-Thahir adalah Amin-Haris mendapatkan 135.733 suara atau 33,01 %, sedangkan pasangan Salwa-Thahir berhasil meraup tertinggi dengan 136.724 suara atau 34,01 %. Disusul selanjutnya pasangan Irwan-Huzain mendapatkan 74.972 suara atau 18,67 % dan pasangan Misnan-Sobri yang hanya meraup 53.967 suara atau 13,44 %.
Ratusan massa pendukung itu sebelumnya berkumpul di Posko Pemenangan Paha Jl KIS Mangunsarkoro Kelurahan Tamansari selanjutnya melakukan unjuk kekuatan dengan konvoi keliling kota. Sepanjang rute massa yang didominasi pengendara sepeda motor dan sejumlah kendaraan roda empat itu mengacung-acungkan dua jari sebagai nomor urut 2 yakni cabup Salwa-Thahir yang diusung PPP.
Tim sukses ketiga cabup yakni Syalwa-Thahir, Misnan-Sobri dan Irwan-Huzaini pada pagi harinya sebelum konvoi juga sempat mendatangi kantor Panwas dan KPUD. Mereka menyampaikan keberatan atas proses Pilkada di Bondowoso yang menurut mereka tidak dilaksanakan dengan wajar.
"Proses pilkada ini sudah cacat secara hukum," kata Zanurianto yang juga Sekretaris Tim Sukses cabup Salwa-Thahir, kemarin. Mereka juga menuding KPUD tidak bekerja secara profesional. Itu dibuktikan dengan beberapa tindakan KPUD yang mereka nilai telah merugikan tiga cabup antara lain, tidak diumumkannya Daftar Calon Pemilih sementara (DPT), membiarkan pihak Pemkab menjadi Tim Sukses salah satu cabup dan dugaan pengglembungan suara.
"Kami menolak proses pelaksanaan pilkada dan harus dilaksanakan pilkada ulang," tandasnya.
Sedangkan salah satu anggota KPUD Bondowoso Purwanto menegaskan, pihaknya tetap akan menampung keberatan mereka. Sebab, kata dia hal itu memang merupakan hak mereka. Hanya saja persoalan itu masih akan dibahas dalam rapat pleno KPUD Bondowoso.
"Pengaduan itu akan kami pelajari dulu. Setelah rapat pleno, baru kami bisa menyimpulkan atas tuntutan mereka," kata Purwanto.
Hingga kemarin, pihak KPUD terus melakukan inventarisasi hasil perolehan suara dimasing-masing KPPS. Dari 23 kecamatan se-Bondowoso, hingga kemarin sore masih belum sampai separuhnya bisa diketahui hasil perolehan suaranya. Terpisah, Ketua Tim Sukses cabup Amin-Haris, Achmad Dhofir tidak terlalu menggubris klaim kemenangan yang dilakukan Tim Paham Syalwa-Thahir.
"Ah, itu kan cuma klaim dan belum bisa dibuktikan secara nyata. Kita kan ada bukti quick count versi pendopo, kita tidak risau sebab kita juga menunggu hasil resmi perhitungan manual KPUD," timpal Achmad Dhofir.
Dia sendiri masih terus optimis dengan kemenangan Amin-Haris yang sebelumnya dibuktikan dengan perhitungan yang dilakukan para saksi ditiap tempat pemungutan suara dari tingkat kampung, desa hingga kecamatan.kim/*

LELANG DISPERINDAG DIBAHAS


Keabsahan Pencabutan SBU Pemenang Lelang

JEMBER - Sosialisasi perundang – undangan jasa konstruksi No 18 tahun 1999, oleh Pemerintah Kabupaten Jember menjadi ajang konfirmasi dan klarifikasi persoalan lelang di Disperindag. Fenomena lelang di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal akhir – akhir ini dua kali terjadi masalah.
Pertama soal lelang Jember Outlet Rp 950 juta yang dimenangkan CV Gusteknika, dan kedua adalah terkait lelang pengadaan jaringan listrik dan pembangkit alternatif senilai Rp 2 milliar kemarin. Persoalan pertama terkait SBU (Sertifikat Badan Usaha) yang dimiliki oleh CV Gusteknika disoal oleh rekanan karena muncul surat di LPJK Jatim bahwa SBU rekanan pemenang lelang Jember Outlet tersebut dicabut.
Mendapat pertanyaan itu dengan bahasa lebih diplomatis Ketua LPJK Jawa Timur Drs I Made Oka, SH, MM, menjelaskan bahwa yang bersangkutan telah diminta klarifikasi. Dan terkait SBU yang telah dikeluarkan dan dicabut itu harus diperbaiki. Saat itu pengalaman kerja CV ini mendompleng pengalaman kerja orang lain. Yang tak lain berperan dalam hal ini adalah H Syaiful Bahri, Ketua KADIN Jember, yang juga pengurus LPJK Jatim. Sementara itu, CV Gusteknika tak terima jika disebut memalsu dokumen itu.
Dia saat itu malah mempertanyakan kinerja LPJK jika menyoal SBU yang telah dikantonginya itu. Jika disebut pemalsuan, maka CV ini melalui direkturnya Beni Gustanadi, mengancam akan melaporkan balik sebab dia sudah memasukkan data yang benar. Tapi, kenapa data yang keluar malah keliru.
Mendapat pertanyaan audiens yang berasal dari kalangan rekanan dan rekanan penyedia jasa se Jember ini, I Made Oka, mengatakan bahwa kesalahan SBU dan pencabutan itu harus dilakukan pembaharuan alias perbaikan. SBU yang sudah dicabut itu harus dibetulkan dengan pengalaman tersendiri.
Diakuinya, bahwa dari dulu hingga sekarang ini pelaporan rekanan yang mendapat pekerjaan untuk syarat SBU itu dilakukan mendadak dan seringkali ketika hendak ada proyek. Tapi, seharusnya menurut aturannya adalah rutin. Seperti ketika suatu instansi atau Dinas juga harus melaporkan rutin tentang penilaian hasil pengerjaan para penyedia jasa di daerahnya. “Apa kena daftar teguran, pelaporan tidak berhasil, semacam black list. Tapi, lebih halus dari black list. Selama ini tidak pernah ada juga,” ujar I Made.
Persoalan status rekanan penyedia jasa saat SBU dicabut dan disuruh memperbaiki selagi dia menjadi pemenang lelang, semua dikembalikan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) di masing – masing instansi dan dinas atau panitia. Apa panitia itu terus mengacu kepada Keppres atau tidak terserah kebijakan PA itu sendiri.
“Kami tidak bisa mengatakan itu. Karena semua diserahkan kepada aturan Pengguna Anggaran itu sendiri lagi. Apa tetap melanjutkan atau tidak. Sebab, itu bukan kewenangan kami. Apa bisa diretender atau tidak terserah Pengguna Anggaran. LPJK hanya sebatas mengurus soal SBU saja. Jika ada kesalahan, ya dicabut dan diperbaiki lagi,” ujar I Made.
Dalam kesempatan sosialisasi itu, hadir Ir Juwarto, Kadis PU Pemkab Jember, Kepala Sungram Drs Slamet Urip Santoso, Kepala Jamsostek Tjipto Rahadi. Di akhir penjelasan itu, PT Jamsostek mengingatkan bahwa terkait pengerjaan para penyedia jasa, dan pengguna anggaran sudah perlu dilakukan pengisian Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Secara singkat ada uang jasa pungut bagi aparatur pemerintah selaku pengguna anggaran, dan besaran pencairan Jamsostek senilai Rp 14 juta bagi pekerjaan yang rusak akibat faktor bencana alam atau kecelakaan. Belum lagi ada tunjangan kematian bagi pekerja nilainya 48 x upah pekerja. kim

PRO ALUTFIYAH : BUPATI JEMBER MALING !


DIGERURUK, KE DPRD KELUAR LEWAT PINTU BELAKANG

JEMBER - Setelah berhasil mempermalukan beberapa aparatur desa karena menemukan ketidakkonsistenan Pemerintah Kabupaten Jember, kubu massa cakades Hj Alutfiyah, warga Desa Gumukmas kembali menggeruduk gedung DPRD Jember, Senin (28/7) siang.
Dengan menggunakan satu kendaraan truk mereka menyerbu halaman gedung DPRD yang saat itu sedang digelar rapat paripurna pengesahan Raperda Inisiatif DPRD Jember. Hadir lengkap beberapa Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Camat, hingga unit kerja lain termasuk Bupati Jember MZA Djalal.
Tapi, saat demo digelar massa warga dihalang – halangi aparat dari satuan Polisi Pengendali Massa (Dalmas) Polres Jember yang membarikade pintu masuk gedung DPRD. Aspirasi warga ini nyaris tak terkendali. Sempat terjadi aksi dorong pintu halaman antara massa warga Desa Gumukmas, dengan aparat Satpol PP di lapis pertama.
Saat pagar terbuka, aparat Dalmas Polres membarikade. Tapi, selang beberapa menit dia diperbolehkan masuk ke halaman DPRD, dan diterima orasi di depan pintu gedung DPRD. Baru setelah itu mereka ditemui anggota DPRD dari Komisi A, Drs Abd Ghofur dan anggota.
Sedikitnya ada 20 perwakilan massa warga pendukung cakades Hj Siti Alutfiyah, ditemui anggota Komisi A, di ruangan. Tapi sayang, warga ini tidak berhasil menemui Bupati MZA Djalal, dan perangkat eksekutif karena ditinggal “kabur” melalui pintu belakang. Mengikuti dari belakang, sejumlah aparatur Pemerintah diantaranya Sekkab Drs Djoewito, Kabag Hukum, Kabag Pemdes, dan Asisten.
Sebelum, diterima di ruangan Hj Siti Alutfiyah sempat kesal dengan pengamanan Polisi dan Satpol PP yang menghalangi warga bertemu dengan Bupati. “Kami mohon Pak polisi bahwa kita ini rakyat, seharusnya dilindungi untuk ketemu Bupatinya. Aspirasi kami ini bukan mendadak, tapi sudah dijanjikan. Tapi, sudah lewat janji ini belum ada keputusan,” ujar Hj Alutfiyah.
Mereka membeber spanduk dan poster berisi hujatan, “Bupati Maling,” Bupati Carpak, Bohong, penipu rakyat, dan lain sebagainya. Bahkan tuntutan mereka yang meminta hitung ulang hasil coblosan itu dituangkap dalam poster berisi hasil perhitungan suara yang memenangkan kubu Hj Alutfiyah. Tapi, hingga beberapa kali akhirnya perhitungan dimenangkan oleh Bambang Winarko, calon nomor 5 yang kemarin dilantik Bupati Djalal. “Padahal, masih ada sengketa. Bupati sendiri mengeluarkan surat tidak akan melantik selagi menunggu keputusan pengadilan tetap. Ini dilanggar sendiri. Sekarang janji bertemu tidak ditemui,” teriak M Zein, tokoh demo, dengan lantang.
Saat diterima di ruangan, dialog seperti buntu. Sebab, Komisi A jauh hari telah menegaskan bahwa sikap komisi A sama dengan warga. Komisi A merekomendasikan dihitung ulang. Sikap ini ditegaskan kembali oleh Ketua Komisi A Drs Abdul Ghofur, di depan warga dan perwakilan warga.
Tapi, pertemuan sempat buntu karena Komisi A tidak memiliki keberanian memanggil Bupati untuk dipertemukan warga dalam kasus ini. Perwakilan warga pun mencari cara bagaimana menemui Bupati. Terlebih dahulu, warga meminta perwakilan mengecek keberadaan Sekkab Jember Drs Djoewito, yang mengeluarkan surat berisi tidak akan melantik Kades Bambang Winarko, sebelum ada putusan pengadilan tetap.
Tapi, saat dicari di Pemkab Jember, Drs Djoewito, MM sembunyi. Setelah massa dan perwakilan jenuh menunggu, Sekkab ini pulang dengan terburu – buru. Meninggalkan ruang dengan mobil dinasnya. Sementara itu, di luaran tersiar kabar bahwa Pemkab Jember dalam pertemuan sebelumnya antara Sekkab, Asisten, Kabag Pemdes, Kabag Hukum, Camat, telah merekomendasikan perhitungan ulang. Tapi, kapan waktunya tidak bisa ditentukan. “Katanya menunggu tiga hari. Tapi ini sudah sekian hari, sejak tangal 14 Juli 2008 lalu,” ujar Imam, kuasa hukum Hj Siti Alutfiyah, yang juga suami cakades yang dikalahkan selisih satu suara ini.
Sekadar diketahui, hasil pilkades Gumukmas itu diikuti 5 calon. Hj Siti Alutfiyah, nomor urut 3 mendapat suara 2.638, sedang Bambang Winarko mendapat 2.601 suara. Tapi hasil perhitungan ini tidak disetujui panitia. Hingga akhirnya dihitung berkali-kali hingga Hj Siti Alutfiyah, dikalahkan dengan selisih satu suara.
Dia pun disarankan Kabag Hukum, menggugat panitia ke Pengadilan. Sembari itu, putusan perhitungan ulang sesuai Perda yang ada diperkuat Pengadilan Negeri. Tapi, hingga 2 tahun tak segera dilakukan eksekusi perhitungan ulang. Tapi, panitia banding ke PT. Di Pengadilan Tinggi ini, panitia dimenangkan. Tapi, Hj Alutfiyah, mengajukan Kasasi, ke MA. Tapi, saat proses belum final Bambang Winarko dilantik Bupati Djalal. Padahal, Sekkab telah mengeluarkan surat tidak akan melantik Bambang karena perkara hukum belum final. Hal ini dipertegas oleh Tim Asistensi Ahli Hukum Unej, Totok S, SH, saat dihearing di DPRD bahwa yang benar adalah menunggu sampai ada keputusan pengadilan tetap. Baru Bambang bisa dilantik.
“Keinginan kami hanya hitung ulang saja, tidak ada lain. Kalau sudah dihitung, kita tidak akan macam-macam. Kita menerima hasil apapun. Mau menang atau kalah terserah. Tapi itu harus dijalankan,” ujar Hj Alutfiyah. kim

Dirjen Hortikultura : Cabe Merah Prioritas ke-6



JEMBER- Dirjen Budidaya Holtikultura dan Bio Farmaka Deptan RI, DR. Ir. Mujidin Rahmad menegaskan bahwa pemerintah menjadikan tanaman cabe sebagai bagian dari jenis tanaman holtikultura prioritas ke-6 untuk meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia.
"Artinya kita akan terus mengerahkan upaya untuk meningkatkan produksi tanaman cabe dengan mendorong petani ikut mensukseskan program itu," ujarnya saat berada di Mimbar Sarasehan Tingkat Jawa Timur bertajuk “Bedah Potensi Produksi dan Pemasaran Cabe Merah” di Balai Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Senin (28/7).
Dirjen mengatakan bahwa Indonesia sampai saat ini masih menghadapi tantangan dalam memenuhi pemenuhan akan cabe merah, bahkan masih melakukan import dari negara lain. Tapi import itu hanya untuk kebutuhan pembuatan saos. Sedang kebutuhan lainnya dapat tercukupi dengan peningkatan produksi cabe di tingkat petani Indonesia.
“Petani kita handal dan lahan mencukupi, namun upaya yang harus terus dilakukan berupa peningkatan produksi yang sesuai dengan permintaan pasar dalam hal ini perusahaan,“ ujarnya.
Namun demikian para petani harus berupaya untuk meningkatkan daya saing produksinya. Artinya petani harus meningkatkan hasil produksi dan menurunkan biaya produksi semaksimal mungkin, agar mereka mampu bersaing dengan negara-negara pengekport cabe merah.
“Kalau itu terus dilakukan oleh para petani, kita akan merasa kuat dimata Internasional,“ tegasnya.
Lompatan produksi dapat dihasilkan oleh lahan jenis itu bila semua pihak berkoordinasi dan bekerja keras di lapangan dan berkomitmen. Secara khusus, Dirjen meminta kepada Badan Pengembangan Pertanian untuk memperluas dan memperkuat penelitian cabe merah, agar dapat menghasilkan varietas unggul baru, sehingga Indonesia menjadi eksportir cabe merah yang diperhitungkan dunia.
Di tempat yang sama, Kadis Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur, Ir. Wibowo Ekoputro menyatakan rasa bangganya terhadap petani yang telah berupaya dan komitmen membangun partisipasi masyarakat di bidang pertanian.
Terhadap Kabupaten Jember yang telah memberikan kontribusi yang besar terhadap eksistensi kelompok tani ini, dia mengaku terima kasih dan memberi penghargaan yang tinggi.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jember, Ir. Hari Wijayadi berharap para petani selain berupaya terus meningkatkan produksinya juga harus dapat memperhatikan daya beli masyarakat. Dengan produksi melimpah, tapi tidak didukung dengan kemampuan daya beli masyarakat, maka akan terjadi over produksi.
“Karena Kabupaten Jember, selain memperhatikan akan Ketahanan Pangan, juga yang tidak kalah pentingnya berupaya akan kecukupan pangan,“ jelasnya.
Menurutnya, bahwa fokus ke depan akan lebih pada peningkatan produksi pertanian untuk menjaga ketahanan dan kecukupan pangan di daerah. Kabupaten Jember belum terjadi rawan pangan karena Jember termasuk daerah pemberi kontribusi pangan cukup besar.
Para kelompok tani di tempat itu merasa bangga, karena produksi panen cabe merahnya menggembirakan, di sisi lain kebutuhan sarana produksi dan pasca panen di desa sering mengalami kendala. Hal ini disampaikan Ahmad Badri Kelompok Tani Aneka Tani, Dusun Gawok Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Jember.
Menurutnya masalah biaya usaha produksi saat ini semakin mahal. Dia meminta sarana pertanian harus dicukupi. Panen perdana cabe merah di areal lahan milik petani ini atas kerjasama dengan PT. Petrokimia Kayaku, APPH (Asosiasi Petani dan Pedangan Hortikultura), Heinz ABC sebagai konsumen/perusahaan dan U.D. Sukses dari Sragen Jawa Tengah sebagai Supliernya.
Panen cabe merah perdana ini juga dihadiri oleh Dirjen Hortikultura dan Bio Famaka Deptan RI, DR. Ir. Mujidin Rahmad, Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur, Ir. Wibowo Ekoputro dan Kadis Pertanian Kabupaten Jember, Ir. Hari Widjayadi serta para petani se-Kecamatan Wuluhan. kim

Minggu, 27 Juli 2008

PULUHAN KYAI BERTEMU DI RUMAH FPI

Pengajian Ukhuwah Islamiyah

JEMBER - Pengajian akbar yang digelar di rumah tokoh Front Pembela Islam (FPI) KH Mukmin Mahally di Komplek Pesantren Nurul Mukmin Desa Jatikoong, Jatiroto, Sumberbaru, Jember Sabtu (26/7) siang, berhasil mempertemukan sejumlah tokoh berbagai aliran di Jember bahkan se Jawa Timur.
Kendati sempat diisukan pertemuan ini ditunggangi oleh salah satu calon Gubernur Jatim, tapi hingga berakhirnya acara itu tidak terbukti. Bahkan panitia jauh hari sebelumnya menegaskan bahwa pertemuan tokoh, kyai, dan pemuka agama Islam se Jawa Timur ini hanya untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah belaka.
Tapi, sayang Bupati Jember MZA Djalal, yang diundang khusus dalam pertemuan itu malah tidak hadir. Beberapa kyai yang hadir adalah KH Sahilun A Nasir (Ketua MUI), KH Syadid Jauhari NU Jember, HM Baharuddin Rosyid (Muhammadiyah), KH Lutfi Achmad, KH Lutfi Bashori Alwi Malang, Kh Shofi Sholeh Kaliglagah, Kh Achmad Rofi Lumajang, Habib Abdullah Bin Husen Al Hamid Pasuruan, DR KH Abdullah Syamsul Arifin, KH Mas Asror Abdul Hannan, Habib Abdurrahman Bin Husen Assegaf, KH Mawardi Zein, Habib Muhammad Bin Jakfar Ali Baharun Probolinggo, KH Habid Hasbullah Jember, Habib Abu Bakar Bin Ali Al Bahar , Habib Muchdor bin Muhammad Al Hamid Tanggul, dan KH Wasil Sarbini, Jember.
Sementara itu KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU Jakarta memberi kabar tidak datang melalui SMS, karena berbenturan dengan acara lain. Yang disesalkan adalah tidak ada konfirmasi dan jawaban dari Bupati Jember MZA Djalal, selaku pemegang wilayah di Jember.
“Kita menerima pemberitahuan dari kyai yang tidak hadir. Tapi, Bupati tidak memberi tahu alasannya. Padahal, kita menunggu saran dari pemegang wilayah untuk kepentingan ukhuwah islamiyah di Jember ke depan,” ujar Habib Haidar Bin Achmad Al Hamid, Ketua Penyelenggara pengajian.
Di akhir acara, konsep ukhuwah Islamiyah yang digagas para kyai, dan tokoh agama Islam se Jawa Timur ini adalah dengan pembentukan kegiatan serupa di masing – masing Kabupaten / Kota se Jatim secara bergiliran.
Menurut sejumlah kyai, pertemuan, pengajian sesama Tokoh Agama Islam se Jawa Timur ini sangat mendesak dilakukan karena masyarakat Jawa Timur memiliki gawe besar dalam pesta demokrasi berupa ke depan.
“Selain itu, juga untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah semua tokoh, masyarakat, penganut agama Islam untuk tidak saling terpecah belah. Berbagai aliran di Islam, yang muncul belakangan ini harus segera disikapi. Karena kalau tidak kita akan terpecah – pecah sebagai ummat Islam, dan gampang diadu domba,” ujar Baharuddin Rosyid, Ketua PC Muhmmadiyah, Jember.kim

Perhitungan Suara Tercepat di Polres



JEMBER- Komisaris Polisi (kompol) Teduh TSW ini tak banyak diketahui khalayak kendati belakangan ini, sebenarnya dialah satu – satunya perwira yang berada di balik kesuksesan Polres Jember dalam melakukan perhitungan cepat dalam Pilgub kemarin.
Penampilannya yang kalem, dan wibawa ini cukup disegani di jajaran Polres Jember setelah Kapolres Jember. Tentu saja, sebagai anak buah perwira melati satu di pundak ini tunduk dan patuh kepada pimpinan dan atasan.
Tak banyak tahu, kenapa Polres kemarin bisa melakukan perhitungan cepat. Mengalahkan perhitungan Quick Qount, dan perhitungan di desk KPUD Jember. Pukul 20.00 WIB tanggal 23 Juli 2008 kemarin, perhitungan sudah mencapai 99,9 persen. “
”Kurang 1 TPS saja yang belum dihitung, kemarin,” ujar Kompol Teduh.
Ditemui di ruangannya, dia nampak sedikit tersipu saat dia mendengar kabar bahwa perhitungannya kemarin tercepat. Ini tentu saja perhitungan tercepat bagi internal Polri. Hasilnya kendati akurat, tidak bisa disebarluaskan saat itu. Sebab, data yang dipakai adalah tetap data KPUD Jember.
“Ini memang supercepat. Tapi, kan untuk internal. Kalau ada yang mau bekerja sama dengan kita. Polres siap dan terbuka,” ujar Kompol Teduh, agak berkelakar.
Yang jelas dampak akan terasa lain, jika perhitungan suara di TPS – TPS diserahkan ke jajaran Kepolisian. Tapi, bukan tidak mungkin untuk ini. Tinggal menunggu kebijakan dan kemauan saja dari KPU.
Dia mengaku bahwa kerja cepat ini adalah idenya. Tapi, yang menjalankan adalah semua anak buahnya di jajaran Polres Jember, terdiri dari Kapolsek, dan anggota di bagian Ops Polres Jember 16 orang.
Sejak usai coblosan ditutup pukul 13.00 kemarin, diteruskan perhitungan. Lembar fax demi lembar terus meluncur ke mesin fax di Mapolres Jember. Hasilnya, pukul 20.00 tinggal 1 TPS saja yang belum dihitung. Sementara perhitungan di KPUD Jember baru mencapai 26.000. “Akhirnya kita teruskan besoknya. Karena ada tambahan sekitar 1.000 suara saja, dari 1 TPS,” ujar Kompol Teduh, yang mengaku membikin surprise kepada Kapolres AKBP Drs Ibnu Isticha, dalam perhitungan cepat Pilgub ini.kim

LESTARIKAN SATWA LEWAT LOMBA BURUNG OCEHAN

JEMBER - Salah satu usaha melestarikan satwa burung di tanah air yang terancam punah, adalah dengan menambah volume perlombaan burung berkicau setiap tahun.
Demikian dikatakan Bupati Jember MZA Djalal, saat membuka Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional 2008 di Alun-alun Kabupaten Jember, Minggu (27/7).
Menurut Djalal, lomba burung tingkat nasional selain penting untuk pengembangan satwa, juga berdampak luar biasa kepada masyarakat terutama dapat menyerap tenaga kerja dan bisa meningkatkan perekonomian rakyat kecil.
Misalnya, pembuatan sangkar burung, aksesoris sangkar burung, serta berbagai pakan burung, ini bisa melibatkan dan membutuhkan tenaga kerja dari manusia,” paparnya.
Selain dapat mengembangkan dunia kepariwisataan, lomba burung juga dapat menghasilkan dan mengembangbiakkan burung-burung yang sudah langka. Semisal di Jawa yang dulu terkenal dengan burung cucak rowo kini hampir punah, dan burung cucak rowo, cucak hijau dan lainnya bisa dikembangkan lewat event ini.
"Maka dari itu, saya sangat mendukung lomba burung berkicau ini untuk dijadwalkan rutin tiap tahun,“ ujarnya.
Kepada komunitas burung berkicau, Djalal berharap agar kegiatan lomba burung di masa mendatang perlu peningkatan manajemen, karena dapat mendatangkan pemasukan uang negara melalui dunia pariwisata manca negara dan domestik.
Tak kalah pentingnya adalah sebagai upaya melestarikan jenis hewan unggas terutama burung. Menurut MZA Djalal, kegiatan lomba burung berkicau nasional ini panitia mendatangkan kicau mania dari berbagai daerah di Indonesia. Ikut bersama Bupati Muspida, Sekkab Joewito, Asisten, Kepala SKPD, Camat dan panitia.
Dalam kesempatan ini Djalal memberikan bendera sebagai tanda burung favoritnya dan tanda dimulainya perlombaan burung berkicau tingkat nasional tahun 2008 di Kabupaten Jember.
Sementara itu Ketua Panitia Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional Tahun 2008, Gus Baikun Purnomo mengatakan maksud dan tujuan lomba ini adalah untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat perburungan dalam mendukung pembangunan kepariwisataan dan perluasan lapangan kerja di Jember, khususnya usaha mandiri di sektor informal.
Selain itu juga untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap satwa piaraan, sekaligus mempererat tali persaudaraan sesama penghobi burung berkicau se Indonesia.
Lomba yang diikuti ribuan kicau mania ini berasal dari Jatim, Jateng, Jogjakarta, Jabar, Banten, DKI Jaya, Sumatra, Kalimantan, NTB, Ujung Pandang dan Bali, dengan burung yang dilombakan meliputi berbagai jenis seperti Punglor Merah, Punglor Kembang, Cendet (Pendet), Murai Batu, Cucak Rowo, Cucak Hijau, Tledekan, Biju, Kenari, Kacer, Branjangan, Poksay dan Love Bird.
Ribuan ekor burung di Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional ini memperebutkan Piala Bupati Cup Tahun 2008, dan total hadiah uang Rp 140 juta. Sekaligus untuk mengisi agenda kegiatan Bulan Berkunjung Ke Jember (BBJ) Agustus 2008 Jember.
Lomba ini selain itu juga sebagai tempat pertemuan pencinta burung berkicau (ocehan). Selama ini, jumlah pemilik dan pencinta burung ocehan amat banyak dan tersebar di berbagai daerah.
“Dengan demikian, mereka bisa saling berbagi pengalaman dalam arena perlombaan,“ tukasnya.
Selain ini, lomba yang bertujuan memperkenalkan burung ocehan ini juga sebagai usaha melestarikan jenis burung tertentu.
Sementara itu, Angga peserta dari Bali dengan burung Punglor Merah bernama Napi (dalam bahasa Bali) berarti Apa, mengaku lomba ini meliputi fisik burung, gaya, volume kicauan, irama dan lagu kicauan.
"Selain hobi bisa juga untuk menghilangkan kepenatan dan menjadi obat warga yang saat ini kondisi ekonomi nya sedang tidak baik" ujar Angga.kim

Guru Profesional Belum Jaminan bagi Siswa

JEMBER - Peningkatan mutu dan layanan pendidikan sudah tidak bisa ditawar lagi. Sehingga sangat diperlukan profesionalitas guru untuk memenuhi itu.
Demikian disampaikan Asisten Ekonomi Pembangunan Setda Pemkab Drs Edi B Susilo, Msi, mewakili Bupati Jember MZA Djalal dalam membuka Seminar Internasional bertajuk profesionalisme guru, Sabtu (26/7) di Hall Convention, New Sari Utama Restaurant, Jalan Hayam Wuruk 173-175, Mangli Jember.
Menurut Edi, untuk peningkatan profesionalisme guru tidak semudah membalikkan tangan. Wajib Belajar yang diprogramkan pemerintah saat ini mendukung keberhasilan sistem pendidikan.
Bahkan seorang guru yang telah lulus mengikuti sertifikasi guru dapat dikategorikan seorang guru profesional. Kendati begitu keprofesionalan guru belum dapat menjamin bisa memberikan pengetahuan bagi anak didik sehingga mampu berkompetisi di era globalisasi.
Tak hanya itu, fasilitas penunjang pendidikan juga menjadi salah satu faktor dalam peningkatan kualitas pendidikan. Tapi ini bukan jadi kendala sehingga kualitas pendidikan itu stagnan atau menurun.
”Tidak dapat dipungkiri bahwa fasilitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pendesaan, terutama daerah pedalaman sangat berbeda, terutama kelengkapan bahan ajar, tetapi hal ini dapat disiasati oleh guru itu sendiri, dan tentunya pemerintah sangat peka terhadap hal ini,” tegasnya.
Menurut Edi, sebagai salah satu upaya meningkatkan profesional guru, khususnya guru-guru di Kabupaten Jember, Pemkab sangat mendukung upaya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) untuk menggelar seminar pendidikan Internasional.
Menurutnya seminar ini merupakan upaya meningkatkan profesional guru, terutama untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
”Seminar ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas guru yang berhubungan dengan kualitas pendidikan dan layanan pendidikan, apalagi ada peningkatan nilai kelulusan setiap tahun. Maka kualitas guru juga harus mengalami peningkatan,” paparnya.
Ketua PGRI Jember, I Wayan Wise Atmaja mengatakan profesional guru sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan harus dimulai. Banyak orang menilai mutu pendidikan di Indonesia sudah baik.
Kalau dikompetisikan dengan mutu pendidikan luar negeri, jelas belum apa-apa. “Kita masih sangat perlu peningkatan profesional seorang guru,” kata Wayan.
Seminar sehari itu terbuka bagi guru se Kabupaten Jember dengan menghadirkan narasumber Dr. Sulistyo membawakan materi berjudul Improving Teacher Quality to Fulfill the Global Demand, Dr. Eng. Imam Robandi pekerja sosial yang juga Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Timur tahun 2005 s/d 2010. Lalu Mien Uno dengan materi Etika mendidik dan Yamamoto, Ph.D dengan materi Global Education Constellation. kim

DISKOP GELAR SEMINAR INTERNASIONAL

TO FOLLOW UP BANK GAKIN

JEMBER – Reformation of socio economic institution for poor households in Indonesia inilah yang menjadi tema seminar Internasional yang akan digelar oleh Dinas Koperasi dan UKM 12 Agustus 2008 besok.
Program pengentasan kemiskinan masih terus digalakkan. Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Ir Mirfano, Ms, bahwa pengentasan kemiskinan itu telah disinergikan dengan 180 Kepala Negara yang menandatangani kesepakatan mendukung program MDGs (Millenium Development Goals) PBB antara lain mengurangi separo penduduk miskin dunia pada tahun 2015.
Upaya strategis mendukung program ini, adalah menggerakkan usaha mikro yang terbukti mampu menopang pertumbuhan ekonomi local, dan saat ini banyak diminati lembaga-lembaga keuangan Internasional melalui program microfinance dan Perusahaan-perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurut Mirfano, dalam siaran persnya bahwa untuk memahami permasalahan kemiskinan secara global dan program-program microfinance, Dinas Koperasi UMKM Jember bekerjasama dengan Politeknik Negeri Jember (POLIJE) didukung oleh the Japan Foundation akan menyelenggarakan seminar Internasional dengan tema ‘Reformation of Socio-economic Institution for poor households in Indonesia’.
Dasar pemikiran seminar ini tak lain adalah Program PUM-RTM (Pemberdayaan Usaha Mikro Rumah Tangga Miskin) yang dikembangkan di Jember sejak November 2005 yang ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi local (LED) dan mengangkat harkat dan martabat keluarga miskin melalui usaha mikro ‘pokmas’-nya dengan sumber pendanaan dari Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM).
Peserta seminar yang diharapkan hadir adalah dari kalangan Dosen, Mahasiswa, Peneliti, Perbankan, Praktisi ekonomi, BPR, LSM, Pemda & Dinas terkait, Perusahaan, dan organisasi sosial masyarakat.
Seminar ini akan digelar Selasa, 12 Agustus 2008 bertempat di Aula Politeknik Negeri Jember.
Key not speaker nya adalah Dr. Endah Murniningtyas (Direktur Penanggulangan kemiskinan BAPPENAS, Jakarta). Sementara itu pembicara utamanya adalah Mr. Gaku Funabashi, Japan International Cooperation Agency (JICA), Jepang, Mr. Dick Bosselaar, Fortis Bank, Belanda, Mr. Robbie Darsono dari RED-GTZ, Indonesia, Mr. Randy Salim dari Perwakilan Bank Dunia Jakarta.kim

TICKET BOX :
1. Mahasiswa : Rp. 50,000
2. Umum : Rp. 100,000
3. Instansi : Rp. 150,000
Time and Place :
Opened since 1 Juli s/d 12 Agustus 2008.
Sekretariat di P3M-Politeknik Negeri, Jl. Mastrip, P.O. Box 164. Telp: (0331) 333532, 7819317 Fax: (0331) 333531, email: afandi.irfan@gmail.com, or transfer to rekening: a/n. P3M Politeknik Jember No rek. 0031012708 BPD Jatim.

JFC 2008 AMBIL TEMA WOLRD EVOLUSI


Tiap Tahun Dinanti – Nanti

JEMBER - Parade, dan defile model lokal dalam Jember Fashion Carnival (JFC) tahun 2008 ini kian dinanti – nantikan, menyusul sejumlah prestasi nasional yang diraih.
Memasuki penyelenggaraan ke7 JFC menginginkan menjadikan Jember sebagai The World Fashion Carnival City.
"JFC bukan hanya milik Jember, tapi juga milik Indonesia, bahkan dunia," kata Presiden JFC Dynand Fariz, kemarin.
Menurutnya JFC ke-7 kali ini bertema World Evolution yang menginspirasikan perubahan bumi karena tingkah laku manusia yang tak terkendali terbagi dalam 9 defile yakni JFC Marching Band, Archipelago Papua, Barricade, off earth, gate-11, roots, metamorphic, undersea, dan robotic.
Dengan konsep Education, Entertaintment, Exhibiton dan Economic Benefit sekitar 550 peserta terdiri dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum akan mendapat in house training cuma-cuma meliputi Fashion Runway, Fashion Dance, Dance, Singing, Fashion Trend, Make-Up and Hair Style, Basic Fashion Design, Accessories, Presenter, Majorette dan Event Organizer.
“Keunikan JFC dari tahun ke tahun adalah peserta merancang dan memperagakan kostumnya sendiri, berkarnaval di atas catwalk jalan raya sepanjang 3,6 km dengan gerakan Fashion Runway, Fashion Dance dan formasi defile, “paparnya.
Jember Fashion Carnaval (JFC) juga akan menjadi ajang kompetisi peserta dalam memperebutkan 75 trophy dan penghargaan lain yang disediakan untuk mendapat pelatihan berbagai ketrampilan serta pembekalan secara gratis selama 6 bulan.
“Setiap tahun tema yang diusung selalu berubah sesuai dengan perubahan trend fashion dunia dan tahun ini sengaja mengangkat dampak pemanasan global dunia (Global Warning), “ lanjut Dynand Fariz.
Disaksikan 200 ribu orang lebih dari segala lapisan, Jember Fashion Carnaval (JFC) menampilkan eksotika pesona alam, budaya, suku-suku serta tradisi masyarakat Papua yang terancam kerusakan dan kepunahan akibat tingkah laku manusia yang tidak terkendali.
JFC mengajak semua pihak untuk melestarikan dan mengangkat kembali citra Papua sebagai salah satu bagian dari budaya Indonesia yang dikemas dengan konsep inovatif dalam nuansa neoheritage yang harus dilestarikan dan dikembangkan ke dunia Internasional dengan presentasi modern, atraktif dan dinamis.
Off Earth, misalnya di abad 21 ini telah melahirkan banyak kota Metropolitan di dunia. Manusia hidup di tengah hutan beton gedung pencakar langit. Tak ada lagi hijaunya daun, segarnya alam, kicau burung dan desir angin.
Manusia terperangkap disangkar beton. Bayangkan kalau ini terjadi di Bumi, maka kita seakan hidup dalam bumi yang mati karena tak ada kehidupan alam didalamnya, karena semua plastik yang dipengaruhi tehnologi, maka kembalikan alamku, kembalikan bumiku agar kita hidup kembali.
Peserta akan menampilkan kebolehannya dengan rancangan busana sendiri dengan fashion run way dan fashion dance di catwalk berupa jalan raya sepanjang 3,6 km, yang dilakukan oleh komunitas remaja dengan tujuan mewujudkan impian menjadikan Jember sebagai kota Karnaval Fashion Dunia dan pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian rakyat banyak khususnya di sektor industri kreatif. kim

Jumat, 25 Juli 2008

USAI KIAI, KINI LSM MENYOAL

Golden Market Potensi Kemacetan

JEMBER - Jalur lalu lintas di Jl Trunojoyo, diyakini banyak kalangan akan semakin lambat. Itu karena ada pemasangan traffict light (lampu merah) di pertigaan menuju Jl WR Supratman Jember. Sejumlah LSM diantaranya Penyelamat Asset Negara dan Daerah (PANAH) Kustiono Musri, mengaku bahwa pemasangan LM (Lampu Merah,red) itu patut dipertanyakan, karena di sana ada Golden Market sebagai pertokoan baru.
Padahal, kalau mau dikaji keberadaan toko itu nantinya akan membawa dampak kemacetan. Keberadaan LM itu sendiri jelas – jelas menjadi semacam pelegalan terhadap kemacetan itu.
Padahal, kepadatan kendaraan di jalan itu saat pagi hari jam – jam sekolah sangat terasa. Apalagi jam pulang sekolah.
Jika ada LM itu maka akan menambah kelambatan lalu lintas dan kemacetan. Betapa tidak 75 meter sebelum LM itu sudah ada pasar Kepatihan. Sebelum pasar itu ada pertemuan 2 pertigaan. Masing- masing dari arah Jl A Yani , dan dari arah Jl Letjen Suprapto.
Dua pertemuan arus lalu lintas itu menurut Kustiono, sudah membawa dampak penumpukan kendaraan. Belum lagi ditambah ketika hari – hari libur nasional. Jika pemasangan LM itu hanya untuk mengatur kelancaran lalu lintas sebenarnya tidak masuk akal.
“Menurut kami, itu bagian dari MoU dengan Golden Market. Kalau dalam ilmu pemerintahan boleh – boleh saja dilakukan karena mendukung investasi. Tapi, yang perlu dikaji adalah kajian Amdal Lalinnya sebelum dibangun, dan sesudah dibangun itu mana, dan selama ini bagaimana tidak jelas,” ujar Kustiono Musri.
Menurutnya, masyarakat di sekitar Golden Market itu tentu saja banyak diuntungkan. Terutama para pedagang Kaki Lima (PKL). Dan ini akan mengakibatkan permasalahan baru. Yang jelas selain kemacetan tinggi, di sana juga ada kawasan sekolahan. Di sisi kanan ada SD Alfurqon, ada SD Kepatihan I, dan II, serta ada SMAK.
Belum lagi di depan Golden Market itu adalah seharusnya jalur cepat karena searah akibat ada pertigaan. Tapi, kalau pertigaan itu ditiadakan dan dibuatkan perempatan baru. Maka rekayasa lalu lintas yang dilakukan Dishub memasang LM itu patut dipertanyakan ada apa ?.
Drs Sunarsono, Kadishub Pemkab Jember, saat dikonfirmasi melalui HP nya mengatakan bahwa pemasangan Lampu Merah itu bukan milik Dishub. Tapi, pemasangan instalasi itu milik swasta alias Golden Market itu sendiri.
Menurut Sunarsono, bahwa pihaknya hanya dihubungi oleh Golden Market yang mengaku akan memasang lampu merah itu. Tapi sifatnya bukan lampu merah traffict light yang selama ini ada. Tapi, hanya lampu penyeberangan.
Dia menolak bahwa Amdal Lalin belum memenuhi syarat. Yang jelas sudah melalui kajian yang panjang di Dinas Perhubungan terutama di bagian teknis Dishub. Berapa arus kepadatannya, dan bagaimana dampak setelah ada pertokoan.
“Saya tidak hafal Mas, bagaimana tanyakan ke Kasi Teknis saya saja,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa untuk kajian teknis amdal lalin itu tidak usah melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, polisi lalu lintas atau siapapun. Tapi, unit bagian teknis rekayasa lalu lintas saja yang melakukan secara cermat.kim

ISTRI HAMIL, SIKAT ANTHURIUM

JEMBER - Saking banyaknya mencuri bunga Anthurium, pemuda pengangguran bernama Dodik Adita (22) warga Jl Jumat, No 54 Mangli, RT 1 Kaliwates Jember, disebut alap-alap kembang oleh petugas. Dia telah lama disanggong petugas untuk ditangkap. Jumat (25/7) pagi dia ditangkap berikut barang buktinya dan dijebloskan ke sel tahanan Mapolsek Kaliwates.
Tukang batu yang mengaku lagi sepi order ini di depan penyidik mengaku telah mencuri sebanyak 10 kali. Hasilnya mencapai Rp 2,5 juta. Semua uang itu dia akui untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidupnya, dan membiayai istrinya yang sedang hamil.
Menurut Dodik, bunga Anthurium itu dicuri di beberapa tempat di Jl Candika No 10 Sempusari, dan dijualnya ke kios bunga Nusantara milik P Nurul. Bunga itu diketahui Sulistiono (pemilik) bunga itu dari P Nurul yang menginformasikan ada orang yang mau jual bunga.
Dari situlah petugas yang dihubungi warga langsung melakukan penangkapan. Tersangka sendiri masih belum transaksi dengan pembeli dan masih mengusung bunga dengan gerobak. Teman tersangka lain hingga kini masih belum berhasil ditangkap, karena dapat meloloskan diri dari sergapan petugas. Tapi nama tersangka sudah dikantongi petugas.
Kanit Reskrim Aiptu Sujilan, mendampingi Kapolsek Kaliwates membenarkan penangkapan itu. Kini petugas masih memeriksa tersangka. Barang bukti telah diamankan di Mapolsek untuk melengkapi berkas perkara.
Menurutnya, tersangka mengaku sudah lebih dari 5 kali mencuri. Dan semua Bunga hasil curiannya dijual. Ada dugaan hasil penjualan itu untuk foya – foya. Alasan memenuhi kebutuhan istrinya yang hamil itu diduga hanya kedok semata. “Itu pengakuannya, dan hak tersangka. Kami tetap melanjutkan kasusnya, hingga ke persidangan,” ujarnya.kim

Kamis, 24 Juli 2008

AMDAL LALIN GOLDEN MARKET DISOAL

*DPRD Ancam Panggil Dishub, Lantas, dan Investor

JEMBER – Analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) Lalu Lintas terhadap proyek pembagunan pertokoan mega market Golden di Jl Trunojoyo Jember diduga terindikasi KKN. Seharusnya, beberapa komponen instansi yang terkait harus dilibatkan untuk membahas masalah amdal lalin, termasuk unsur Tokoh Masyarakat, dan Akademisi.
Tapi, hingga sejauh ini belum ada informasi tentang keterlibatan para tokoh ini dalam pembahasan Amdal Lalin Golden Market. Merujuk pernyataan Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Drs Condro Kirono, dalam acara di Jember beberapa waktu lalu, dia meminta semua LSM, Akademisi, termasuk lembaga baru yang dibentuk Polantas terlibat aktif dalam pembahasan Amdal Lalin bagi pendirian pertokoan, pabrik, dan supermarket yang mengancam kepada arah kemacetan lalu lintas.
“Minta kepada Bupati, Dishub, atau pemerintah untuk terlibat dalam pembahasan Amdal Lalin itu. Polantas ini sangat berkepentingan untuk memberi pengarahan dan pemahaman tentang tertib lalu lintas menghilangkan kemacetan lalu lintas,” ujar Kombes Pol Condro Kirono.
Hingga kini, sejumlah LSM di Jember mempertanyakan soal Amdal Lalin Golden Market Jl Trunojoyo yang menempati lahan bekas Kantor DAMRI Jember, tepat di pertigaan menuju Jl WR Supratman Jember.
Pantauan Surabaya Pagi, ada indikasi tidak adanya kajian mendalam dalam proses Amdal Lalin terhadap pertokoan tersebut. Sehingga ijin – ijin yang lain lancar turun kepada investor tersebut. Di era Bupati Djalal, ini ada tiga pembangunan yang terindikasi menabrak kajian lalu lintas.
Pertama adalah pembongkaran patung Adipura, dan menutup jalan Wijaya Kusuma, lalu menerbitkan surat ijin prinsip pembangunan SPBU di JL A Yani jalan searah yang berada di jalur pusat Kota segi tiga emas, serta terakhir menyetujui pembangunan pertokoan mega market Golden Market di Jl Trunojoyo.
Keberadaan Golden Market di Jl Trunojoyo, diprediksi akan menimbulkan kemacetan luar biasa. Padahal, seharusnya jalur ini adalah jalur cepat searah dan tidak boleh ada pertokoan di sebelah kanan jalan. Sebab, saat bubaran anak sekolah SMAK (Santo Paulus) Jl Trunojoyo, setiap harinya terjadi tumpukan kendaraan hingga 500 meter.
Belum lagi bahu jalan yang sempit. Di sana sudah ada pertokoan milik pengembang Rudi, di lahan eks kantor Disnaker. Kondisi ini sudah macet, dan kini ditambahi Golden Market. Anehnya, pihak Pemerintah Kabupaten Jember dalam hal ini Dishub malah memasang lampu merah (traffict light) di pertigaan itu.
“Jelas ini akan menimbulkan kemacetan luar biasa, jika Golden Market dibuka 8 Agustus 2008 besok,” ujar Gus Syaifullah Ridjal, AS, pengasuh Ponpes Assidiqi Putra, serta pentolan LSM Persada Agung ini.
Gus Syaif, meminta Kapolres, terutama lalu lintas meninjau ulang amdal lalin Golden Market. Sebab, dia mencium belum ada kajian mendalam yang melibatkan semua pihak. Ditambah kemungkinan kemacetan lalu lintas jelas terjadi.
Di sisi lain, Ketua Komisi C DPRD Jember Herry Budi Ermawan, mengatakan akan siap memanggil segera pengembang dan investor Golden Market tersebut untuk didengar pendapat (hearing) dengan anggota Komisi C. Dia mengaku akan mempertanyakan amdal lalin pertokoan itu, dan kenapa Dishub baru memasang Traffict Light saat Golden Market itu hendak dioperasionalkan.kim

Golput Jember Tembus 880.337 Suara

Panwas : KPUD Tak Profesional !

JEMBER – Angka golput (golongan putih) warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub Jatim 23 Juli 2008 kemarin sangat fantastis tapi juga mencemaskan. Selain tingkat partisipasi politik rendah, juga mengarah kepada mundurnya demokrasi.
Artinya ketidakpercayaan masyarakat di kalangan pemimpin, pemerintahan, dan penyelenggara pemilu sendiri sangat minim. Catatan Surabaya Pagi , hingga Kamis (24/7) kemarin perolehan suara yang diraih oleh 5 pasang Cagub di Jember dikalahkan dengan angka Golput.
Dari perhitungan sementara sekitar 96 % suara yang masuk perolehan Kaji adalah 209.674 suara, pasangan SR 178.883 suara, pasangan SALAM 138.690 suara, pasangan Achsan 65.004 suara, sedang pasangan Karsa 180.648 suara.
Sementara itu, jumlah hak pilih di Jember adalah 1.710.938 orang yang disebar dalam 3.725 Tempat Pemungutan Suara (TPS). Suara sah dalam Pilgub kemarin di Jember adalah 804.984 suara. Suara tidak syah 24.874 suara.
Yang fantastis adalah suara Golput adalah 880.377 suara. Semua ini dihitung berdasarkan suara yang masuk dan telah dihitung sebanyak 1.679.145 suara, dan yang belum dihitung adalah 31.793 suara.
Ketua Panwaskab Jember, Drs Abd Qodim Manembojo, Msi, angka Golput itu menunjukkan kinerja KPUD penyelenggara pemilu tidak maksimal, ditambah ambruadulnya DPT dan DPS dan mepetnya penyampaian logistik dengan hari H pencoblosan.
Dari data Panwas, terbesar angka Golput untuk wilayah Jember adalah Kecamatan Tanggul 60 %, dan Kencong 55 %. Menurut Qodim, KPUD diminta segera memvalidasi, dan jangan menjadi lembaga penghilang hak pilih warga negara, karena tidak bisa bekerja profesional.
“KPUD harus merevisi semua kinerjanya, kalau tidak ingin disebut tidak profesional. Ini jangan malah jadi lembaga yang menghilangkan hak warga negara, mereka itu dilindungi UU,” ujar Qodim, lantang.kim

PROYEK LISDES Rp 2 M BAK BUAH SIMALAKAMA

PANITIA, BANWAS, DAN REKANAN NABRAK ATURAN

JEMBER – Proyek listrik desa baik pengadaan jaringan PLTS, SUTR, dan pemeliharaan di Kecamatan Silo, dan Jelbuk senilai kurang lebih Rp 2 Milliar dibagi 3 paket : Rp 345 juta, Rp 808 juta, dan Rp 870 juta diduga menyalahi aturan bak makan buah simalakama. Baik panitia, rekanan, dan Banwas telah terindikasi melanggar aturan Keppres No 80 tahun 2003.
Hingga proses pembukaan dokumen di sampul 1 beberapa rekanan selesai diperkirakan ada 2 rekanan yang lolos seleksi administrasi dengan harga penawaran terendah. Tapi, hingga Kamis (24/7) siang, siapa saja rekanan itu belum diketahui karena panitia belum ada kesimpulan.
Dra Nanis Prihatin, Ketua Panitia Pengadaan di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Penanaman Modal ini tak berhasil dikonfirmasi.
Anggota panitia lain dihubungi Surabaya Pagi mengaku sudah tidak ada masalah. Panitia tidak bisa disalahkan, karena ada berita acara yang disepakati rekanan, dan Banwas. Panitia menegaskan bahwa keputusan itu bukan keputusan panitia, tapi keputusan rekanan dan Banwas yang dituangkan dalam Berita Acara.
“Panitia kan berpedoman bahwa itu bukan keputusan panitia. Tapi, kesepakatan rekanan dibenarkan oleh Banwas,” ujar anggota Panitia yang tak disebut namanya.
Sekadar diketahui, lelang proyek itu memanas antara panitia, dan rekanan sehingga memaksa dihadirkan Staf Banwas Drs Sunu P untuk memediatori.
Tapi malah tak mereda, bahkan hingga ada orang di luar rekanan ikut bicara. Hal itu setelah seorang rekanan H Fathurrossi Maryatmo, mewarning kepada rekanan lain ada oknum pengurus AKLI yang diduga sebagai pemenang.
Indikasi petinggi AKLI telah bermain mata dengan panitia menguat alias terindikasi KKN. Suasana semakin panas setelah rekanan lain tak terima dan menyeret ke konflik AKLI.
Sebenarnya hal utama dalam lelang kemarin adalah prosedur pembukaan dokumen oleh panitia. Panitia tetap memakai sistem 2 sampul dengan cara sampul I dibuka, tapi sampul II tidak dibuka.
Tapi, rekanan menolak. Rekanan minta semua dibuka. Dan mengancam melaporkan kesalahan panitia ke aparat hukum, karena tidak mencantumkan redaksional di dokumen Aanwijzing terkait dasar Keppres dan aturan perubahannya.
Panitia ketakutan. Ditambah lagi Banwas membenarkan itu. Panitia semakin tak berdaya karena Banwas lebih condong ke rekanan. Lalu ditawarkan kesepakatan pembukaan dokumen sampul II.
Usai berita acara ditandatangani, panitia dalam point 3 tetap mengatakan pembukaan dokumen sampul II itu bukan keputusan panitia. Tapi, sayang panitia tidak tegas. Sampul II tetap dibuka untuk melihat jaminan penawaran. Dan malah merembet ke pembukaan nilai penawaran harga.
Padahal, itu jelas menyalahi aturan metode 2 sampul. Yang benar sampul I dibuka, berisi administrasi. Karena harus melihat jaminan penawaran maka terpaksa membuka sampul II.
Argumen panitia bahwa dengan sistem 2 sampul itu akan ditemukan rekanan yang terbaik sebelum dinilai atau evaluasi. Baik administrasi, hingga penawaran harga. Jadi bukan penawaran harga terendah pasti menang. Tapi, bisa jadi kekhawatiran kualitas pekerjaan malah jelek.
“Kita belum sampai ke penilaian. Itu hanya pembukaan saja kemarin, kelengkapan administrasi mereka saja. Panitia itu juga belum tahu. Kita akan nilai dan kini belum dinilai. Sehingga kesimpulan. Penilaian itu belum,” ujar anggota panitia. kim

Rabu, 23 Juli 2008

Kaji Leading di Lapas Bondowoso

BONDOWOSO - Pasangan Calon Gubernur (Cagub) Khofifah Indar Parawangsa-Mudjiono (Kaji) berhasil meraup suara terbanyak di Lapas Bondowoso.
Hal ini disampaikan Ketua KPPS Khusus di Lapas Bondowoso, Teguh Pamuji SH, usai menghitung suara.
Kaji berhasil meraup suara terbanyak dengan jumlah 112 suara, disusul oleh pasangan Karsa (Soekarwo-Syaifullah) dengan suara 69. Sementara cagub nomor dua Sutjipto -Ridwan Hisyam hanya memperoleh suara 62.
Sedangkan pasangan Salam (Sunaryo-Ali Maschan) dan Achsan (Achmadi-Suhartono) memperoleh suara sama, masing-masing meraup 36 suara.
"Untuk suara Pilgub ini suara tidak sah sejumlah 23 suara," ujarnya singkat.
Di sisi lain pada tempat yang sama untuk pilbup suara terbanyak diraih oleh pasangan Cabup Salwa Arifin- Imam Thahir meski tipis. "Pasangan ini meraup suara 94, disusul oleh pasangan Amin Said-Haris Sonhaji dengan jumlah suara 88 suara," jelas Teguh.
Untuk pasangan lain di Pilbup seperti Misnan-Sobri Wasil dari Partai Golkar hanya memperoleh 48 suara. Dan pasangan cabup dari PDI-P Irwan Bachtiar-Huzaini Efendi memperoleh suara 81.kim

KAJI UNGGUL DI KALIWATES

JEMBER – Perolehan suara pasangan Khofifah – Mujiono (Kaji) unggul di Kecamatan Kota Jember. Terutama di Kecamatan Kaliwates.
Perolehan suara Kaji ini sebesar 12812 suara, SR mendapat 8937 suara, sedang Salam mendapat 6726 suara , Achsan mendapat 1647 suara, dan pasangan Karsa mendapat 12559 suara.
Data di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) di beberapa tempat pasangan Kaji nampak unggul. Tapi, perbandingan ini saling kejar – kejaran dengan pasangan Karsa. Tim Karsa, di Kecamatan Kaliwates, yang cenderung pemilih intelektual Kaji menang.
Menurut anggota PPS, PPK Kecamatan Kaliwates, perolehan suara untuk Kecamatan Kaliwates itu sudah final per hari Rabu 23 Juli 2008 pukul 18.00 WIB, kemarin petang. kim

Kejari Terima 10 Pengaduan PSB


• Pelapor Dapat Teror

JEMBER – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jember hingga kemarin telah menerima 10 jenis pengaduan terkait adanya pungutan liar di sekolah dalam Penerimaan SIswa Baru (PSB).
Demikian ditegaskan Kajari Jember, Elvis Jhoni SH, di sela peringatan hari Adyaksa di Kejari Jember kemarin.
Menurut Elvis 10 pengaduan itu berasal dari wali murid berbeda tingkatan : SD - SMA.
“Kita kumpulkan data dulu dan akan kita selidiki sejauh mana tingkat memenuhi unsurnya,” ujarnya.
Menurut Elvis, untuk pengaduan yang bisa diselidiki harus memenuhi unsur melawan hukum dan mengarah ke korupsi.
Semisal, apakah pembayaran dan penentuan nominal pungutan itu sudah disepakati wali murid atau belum. Dan apa betul melalui rapat-rapat dengan dihadiri oleh banyak pihak komite, wali murid dan guru.
“Termasuk alokasinya sesuai rencana atau tidak. Semua itu akan kita selidiki,” ujarnya.
Jika semua unsur memenuhi, maka langsung dilakukan penyelidikan dan penyidikan untuk menjerat tersangka. “Bisa Kepala Sekolahnya, atau lainnya,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Ketua Paguyuban Komite Sekolah Jember, Hakman Tumanggor yang sering melaporkan kasus PSB, dan mengkritisi PSB menyusul seruan Mendiknas tentang larangan pungutan PSB itu mendapat terror dari orang tak dikenal.
Teror berupa ancaman itu diterima saat mengkritisi pungutan PSB di Jember.
Sebelumnya Ketua Dewan Pendidikan, Sulthon Mashud, mengatakan bahwa komentar Tumanggor tidak mewakili wali murid se Jember termasuk Komite.
Sehingga Tumanggor tidak perlu didengarkan. Pernyataan ini bukan terakhir kalinya, tapi terus berlanjut dan terakhir ada ancaman pembunuhan dari orang tidak dikenal.
“Tapi saya sudah siap. Saya ini mbantu warga miskin agar bisa sekolah,” ujarnya.
Dia mengaku siap didukung anak dan istri dan siap mati sekalipun hanya karena mengkritisi soal pungutan di PSB. kim

Tim SR : Golput Tinggi, Mundurnya Demokrasi

JEMBER – Tingginya angka golput (tidak memilih) dalam Pilgub Jatim 23 Juli 2008 menjadi keprihatinan tersendiri bagi Tim Lawyer dari pasangan Cagub Sucipto – Ridwan (SR). Menurutnya, dengan banyaknya angka golput itu menunjukkan adanya kemunduran demokrasi.
Masyarakat yang seharusnya menggunakan hak pilihnya malah tidak menggunakan. Dan ogah – ogahan. Dan ini mencerminkan tidak adanya kepedulian terhadap calon pemimpin di daerah.
Ini sangat krusial untuk disikapi. Maka Tim Lawyer SR mendesak agar segera dilakukan kajian tentang proses penyelenggaraan pemilu di Indonesia terutama. Karena dalam waktu dekat ini Indonesia masih akan menghadapi 2 kali pemilu besar.
Yakni Pemilu Legislatif, dan Pemilu Presiden tahun 2009. Hadi Eko Yuchdi Yuchendi, SH, menegaskan bahwa kemunduran demokrasi ini banyak disebabkan oleh beberapa factor.
Diantaranya adalah lemahnya para penyelenggara pemilu di daerah terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah. Tim SR memprediksi angka golput yang mencapai 40 % saja itu artinya tingkat kemunduran demokrasi sangat fatal terjadi di masyarakat.
Peran utama KPUD misalnya di daerah kurang maksimal. Anggaran Rp 16 milliar seakan – akan tidak ada artinya. Sementara itu pemahaman masyarakat akan pemilu kian mundur.
Eko menyebut, selain ketidakmampuan penyelenggara pemilu yang segera harus dilakukan reformasi system pemilu, dan administrasi pendataan pemilih oleh penyelenggara Pemilu juga karena kondisi perekonomian masyarakat yang semakin sulit.
“Peran penyelenggara pemilu tidak terarah kepada pemahanan terhadap Pilgub itu sendiri. Dalam pendataan misalnya, ada ketidakmampuan penyelenggara pemilu itu, maka perlu ada perubahan administrasi secara global,” ujar Eko.
Dia meminta jangan sampai ada pemilih yang terlewati pendataan dalam Pemilu ke depan. Dan setiap warga negara tetap harus mendapatkan perlindungan hukum. Kenapa warga tidak sampai menggunakan hak pilihnya, selain karena pendataan, tidak memperoleh kartu pemilih juga karena system administrasi penyelenggaraan yang kurang beres.
“Setiap warga negara yang hak pilihnya belum dicabut oleh Pengadilan ini harus diprioritaskan untuk menggunakan hak pilihnya. Jangan sampai tidak memilih karena tidak didata, tidak mendapat kartu, dan lain sebagainya. Ini fakta yang terjadi,” tegasnya.
Eko, meyakini kendati angka golput tinggi tapi tidak sampai kepada dua kali putaran. Jika sampai dua kali putaran dalam Pilgub maka berapa lagi dana yang dikeluarkan pemerintah untuk menyelenggarakan pesta demokrasi ini.kim