Senin, 05 April 2010

LAHAN KRITIS BERKURANG RIBUAN HEKTAR


JEMBER - Minat masyarakat menanam pohon sangat tinggi dari tahun ke tahun dan cenderung ada peningkatan menggembirakan. Hal ini merupakan upaya konservasi secara vegetatif untuk menyelamatkan lahan kritis menjadi lahan produktif.
Di tahun 2009 di Kabupaten Jember terdapat lahan sangat kritis lebih dari 4000 hektar, lahan kritis 20.000 ribu hektar, agak kritis 62.000 hektar lebih, dan potensial kritis 32.000 hektar, dan lahan produktif 91.000 hektar.
Kendati di Jember jumlah lahan kritis diakui masih banyak dan tersebar nyaris merata di berbagai kecamatan, tapi hal itu bisa teratasi dengan upaya penyelamatan lahan kritis melalui budidaya tanaman sengon, jati dan mahoni.
MZA Djalal dalam Laporan Keterangan Pertanggungan Jawab (LKPJ) di Gedung DPRD mengatakan di tahun 2006 - 2009 terdapat 22 juta pohon yang ditanam oleh masyarakat.
Jumlah ini terdiri dari pohon jati 64,6 juta, mahoni 4,6 juta pohon, sengon8,9 pohon dan 1,9 pohon jenis yang lain.
Keberadaan pohon ini selain untuk menyelamatkan lahan kritis juga meningkatkan populasi jumlah kayu rakyat, bahkan untuk mendukung penyelamatan lahan kritis tersebut Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pemkab Jember telah melakukan upaya pembibitan untuk tersedianya bibit tanaman itu.
“Bahkan sejak tahun 2006 lalu Pemkab Jember dalam hal ini Dishutbun telah mendistribusikan bibit tanaman kepada masyarakat untuk ditanam di areal lahan kritis sebanyak 2,5 juta pohon, diantaranya sengon 1,7 juta pohon, mahoni 198 ribu pohon, mindi 251 ribu pohon dan jabon 190 ribu pohon,” tegasnya.
Dengan didistribusikannya sejumlah jenis tanaman itu diharapkan dapat mengurangi jumlah lahan kritis di Jember, selain itu pemanfaatan lahan kritis juga untuk mengurangi dampak pemanasan bumi (global warming).
Dibudidayakannya tanaman sengon, jati dan mahoni diatas lahan kritis mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, sebab tanaman tersebut mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan cepat pertumbuhannya,” jelas MZA Djalal.
Paparan MZA Djalal dalam LKPJ itu tidaklah terlampau berlebihan, karena di Jember banyak dijumpai masyarakat yang sedang gemar membudidayakan tanaman sengon, jati dan mahoni di atas lahan kritis.
Budi salah seorang warga Kecamatan Sukowono - pemilik pohon sengon di areal lahan kritis – dia mengaku diuntungkan dengan menanam sengon karena mampu memberdayakan lahan kritis miliknya dan harga jualnya cukup stabil.
Selain bibit tanaman sengon mudah didapatkan dengan harga yang sangat terjangkau, tanaman sengon juga tidak butuh perlakuan khusus sehingga biaya perawatan bisa ditekan semaksimal mungkin.
Kabag Humas Pemkab Jember Drs. Agus Slameto, MSi mengatakan, diminatinya tanaman sengon, jati, dan mahoni oleh masyarakat Jember merupakan angin segar dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Selain itu menurut Agus pemanfaatan lahan kritis merupakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat, mengingat tanaman itu mudah ditanam dan tidak butuh lahan khusus seperti tanaman lain. Hasilnya juga menjanjikan. ki

Tidak ada komentar: