Rabu, 24 November 2010

Timbun BBM Ditangkap


• Polisi Akan “Lepas” Tersangka

Jember – Karena saking keterlaluan mengisi bensin premium bersubsidi ke mobil Pik-up yang memuat 15 drum kecil berukuran 20 liter-an, akhirnya masyarakat sekitar SPBU Arjasa, di utara Terminal Arjasa melapor ke Mapolsek, Rabu (25/11).
Tindakan curang ini, ditindaklanjuti dan dilakukan penangkapan. Alhasil, mobil pic-up warna hitam ditutupi terpal dan berisi 15 drum kecil ukuran 20 liter-an yang berisi bensin Premium diamankan ke Mapolsek.
Mobil D 8387 DG milik P Yosi, alias P Is, warga Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat ini dihitung warga sudah beberapa kali bolak balik mengusung bensin dengan drum mini 20 liter-an. Padahal, masyarakat Jember belakangan ini kesulitan dan menunggu antrean bensin di SPBU.
Kelangkaan bensin di Kabupaten Jember ini memicu emosi warga. Warga pun melapor ke Mapolsek. Polisi meringkus dan menggiring mobil tersebut, untuk dimintai keterangan.
Kapolsek Arjasa AKP Suryadi, sedikit menutupi. Tapi, saat didesak akhirnya berkomentar bahwa kasus itu masih dilakukan pemeriksaan. Dia masih mengamankan mobil pengangkut BBM bensin itu untuk diproses. Tapi, sejauh ini kata dia, kondisi antrean di SPBU tidak seperti kemarin.
Dia mengaku SPBU dan suplai dari Pertamina sudah lancar. Sehingga untuk pembelian partai besar dengan jerigen seperti itu bisa dilayani. Jika diproses secara hukum, polisi masih kesulitan menemukan jeratan pasalnya.
Saat ditanya, dia membeli dengan harga standart dan normal. Tapi, di jual dengan harga Rp 5.000 eceran. Diduga kuat Yosi, ini menyuplai beberapa kios bensin eceran. “Kita masih periksa, Kalau unsur memenuhi dan ada jeratan pasalnya kita akan tindak tegas,” ujar Kapolsek Suryadi.
Mendengar berita akan dilepaskannya tersangka kasus penimbunan BBM itu, tokoh masyarakat Hariyanto alias Yayak, memprotes. Dia mendatangi Mapolsek Arjasa. Dia complain dan meminta kasus itu diteruskan.
Menurutnya, Yosi, dan anak buahnya sudah sangat keterlaluan. Karena tindakan membeli seperti itu dengan cara sembunyi sembunyi sudah menyakiti hati rakyat yang antre di SPBU. Padahal, saat ini warga masih kesulitan antre BBM.
Yang jelas, katanya mustahil polisi tidak bisa menjerat kasus ini. Sebab, modusnya sudah jelas dan terang. Pelaku menggunakan kendaraan pik-up dan mengangkut 15 jerigen untuk diisi penuh sekitar 20 liter-an, pasti tujuannya untuk bisnis.
Di luaran dia menjualnya dengan harga Rp 7000, hingga Rp 8000. Hal itu sama dengan memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan dan kesulitan orang lain. Di lain pihak warga kesulitan antre, dia bekerja sama dengan oknum SPBU bernama Indra, untuk dilayani pengisian BBM dengan jerigen dalam jumlah tidak sedikit.
“Itu jelas pelanggaran. Kalau perda yang lama jelas sudah kena, tapi kalau cuma itu kan tidak bisa diproses. Itu sama dengan penimbunan BBM, dan ini criminal. Ada di KUHP itu,” ujar Hariyanto berargumen.
Tapi, polisi tetap akan memproses berdasarkan unsur hukum dan pasal yang akan diterapkan. Menurut Suryadi, pihaknya tidak gegabah untuk “melepas” atau memproses lanjut. Tapi, akan dipelajari unsur nya. Sebab, tindakan pelaku itu saat kondisi SPBU sudah lancar pengirimannya. Dia dianggap kulakan tapi dengan jumlah besar, dan menimbulkan kecemburuan masyarakat saja. ki

Tidak ada komentar: